Skip to main content

We Cant Say it...

Wow, sungguh fantastis..isu video mirip A-LM-CT, sudah menjadi TOP HOT News di belantika tanah air kita ini ya..bahkan katanya menurut berita di VIVAnews.com, kasus ini juga telah menarik perhatian media asing,  New York Times, salah satu harian terkemuka di Amerika Serikat. Tulisannya muncul dengan judul "Sex Tape Scandal Fixates Indonesia",   pada hari Minggu 13 Juni 2010 kemarin. Kalo yg beginian aja cepet banget loadingnya...wkwkwk...ah, tapi ada untungnya juga, jadi ke-ide-an buat nulis sesuatu di blogku yang sepi ini,,huehue..(adue, maaf ga bermaksud senang di atas penderitaan org lain kok, so baca ampe tuntas..hee).

 Dari beberapa berita yang saya baca dan lihat di TV ataupun media lainnya, begitu banyak pendapat dan lontaran-lontaran pemikiran mengenai perilaku A, mulai dari Sosiolog, Kriminolog, Seksolog, Psikolog, bahkan Sarjanalog seperi saya ini, hwehwehwe...

Ada yang menyebutkan bahwa A memiliki kelainan seksual, dari sebutannya mental illnes, sexual dysfunctions, narcissistic ampe Exhibitionism...aduh kasian banget ya A, disebut kayak begini..mana ada yang mau coba..tapi apakah benar seperti itu..? we dont know yet..

Kalau boleh saya meng-share (bukan videonya..ati-ati lo..hee) sedikit ilmu yang pernah saya pelajari di bangku kuliah dahulu, saya jadi teringat akan penjelasan salah satu dosen paling cool di mata kuliah paling menyenangkan zaman baretoks..hehe (apa coba??)

Sebelum kita beranjak lebih jauh, saya ingin mencoba menjelaskan, apa itu sebenarnya Perilaku Sexual (Human Sexual Behaviour), yang selama ini selalu menjadi materi tabu untuk di jelaskan lebih lanjut, tapi tidak ada salahnya jika kita tau sedikit, tentang apa dan bagaimana Perilaku ini berpengaruh pada kehidupan manusia. Menurut Wikipedia;
Human sexual behaviour encompass a wide range of activities such as strategies to find or attract partners (matting and display behaviour), interactions between individuals, physical or emotional intimacy, and sexual contact.
Artinya, bahwa perilaku seksual manusia mencakup aktivitas yang luas seperti strategi untuk menemukan dan menarik pasangan (perilaku mencari & menarik pasangan), interaksi antar individu, kedekatan fisik atau emosional, dan kontak secara seksual.
Jadi, berdasarkan pengertian di atas, orang yang lagi PDKT atau menebar pesona untuk menarik pasangan lawan jenisnya, bisa di katakan sedang berperilaku sexual juga. (so, perilaku sexual itu ngga harus berkonotasi sebagai perilaku sex "di ranjang" saja). Sekarang yang menjadi permasalahannya adalah ada perilaku seksual yang normal dan tidak normal. Berbicara mengenai normal dan tidak normalnya suatu perilaku, tentunya akan sangat banyak di pengaruhi oleh norma, nilai, serta budaya yang berlaku dalam suatu lingkungan pada waktu tertentu.

Jika anda ingin tau, pada zaman Yunani Kuno, Pria dewasa yang memiliki orientasi seksual sejenis (Homosexuality) dianggap sebagai "a normal adjunct" sebelum mereka melakukan pernikahan dgn lawan jenisnya (Heterosexual Marriage). Sedangkan pada tradisi Judeo-Christian pada waktu yang sama menghukum perilaku-hubungan sesama jenis ini.

Perbedaan sexual expression ini juga pernah diteliti oleh Peneliti Messenger dan Marshall pada tahun 1971. Penelitian ini mengungkap perbedaan dua budaya dalam mengekpresikan perilaku sexualnya, yaitu di sebuah desa kecil dekat pesisir pantai Irlandia, kampung Irish, Inis Beag, dan  Kampung Mangaia, kepulauan Polynesia.
Ketika Messenger mewawancarai dan melakukan penelitian selama 19 bulan di Inis Beag village, ia menemukan bahwa penduduk di sana tidak mengetahui pengetahuan apapun mengenai perilaku seksual, baik itu "tongue kissing", "oral-genital contact", "premarital coitus (sex before married)", atau "extramarital coitus".  It is never heard before that man and woman in Inis Beag, doing such sexual activity, like putting his mouth on the woman's breast, or the woman stimulating the man's penis with her hand, and how woman doing orgasm (uups, maaf kalau bahasanya agak gimana gitu..kalau anak-anak psikologi mah udah biasa ngomongin beginian..but not Practice it..oke..:). Nyambung lagi yuu, jadi menurut penduduk Inish Beag, Intercourse (Kontaks sexual) akan beresiko pada kesehatan mereka, and they think that dont have to "moving their underwear" to achieve gratification to coitus.  (thinking, how they can bring a baby in their life??...), umm whatever, By contrast, peneliti Marshall menemukan hal yang berbeda pada penduduk Mangaia pada tahun yang sama. Ia menyebutkan bahwa, di sana, copulation (hubungan seksual) merupakan hal yang penting bahkan sebuah konsep yang sangat prinsipal dalam kehidupan sex mereka, its said: "copulation was a principal concern of The Mangaian of either sex".  Penduduk Mangaia, telah dikatakan sangat aktif secara seksual sejak berusia 13 tahun, setelah menerima pengarahan serta antusiasme/dukungan dari para orang dewasanya. Bahkan mereka sangat expert dalam sexual teknik maupun sexual anatomi. Marshall juga meneliti bahwa, seorang pria di sana bisa melakukan orgasm rata-rata pada usia 18 tahun, sebanyak 3 kali dalam satu malam selama satu minggu, dan pria berusia 28 tahun, 2 kali dalam satu malam selama 5 hingga 6 hari tiap minggu. Kebanyakan wanita Mangaia pun seorang orgasmic, mereka tidak khawatir bahwa perilaku ini dapat mengganggu kesehatan mereka. Tentunya kondisi ini pun akan sangat berbeda jika di bandingkan dengan negara-negara atau kebudayaan lainnya. Namun, dari perbedaan dua culture yg ekstrem di atas, mengilustrasikan sebuah poin yang cukup krusial, bahwa "Human sexual behaviour, viewed across cultures, is extremely variable" (taken from Abnormal Psychology by Lauren B A, John, H R, and Margaret J M).

Jadi, intinya, kenormalan dan ketidaknormalan suatu perilaku seksual, akan sangat bergantung pada kebiasaan budaya atau value yang di pegang oleh suatu masyarakat. Seperti apa yang sedang terjadi di negara kita saat ini, we just facing the phenomenon that maybe not macth with our culture and religion. Video yg katanya mirip A-LM-CT that have been issued recently, membuktikan adanya ke tidak singkronnan antara nilai-nilai yg di anut oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, dengan apa yang telah di perbuat oleh pelaku dalam video tersebut. Sehingga, tentu saja ini menjadi wacana yang menarik perhatian orang banyak.

Perilaku seksual yang ekstrem memang tidak sesuai dengan norma-norma agama yang kita anut. Namun, jika melihat fakta di lapangan ternyata 25% Remaja Indonesia melakukan seks bebas pranikah. Diantaranya:
  • 42,3 persen Remaja Indonesia melakukan hubungan seks pertama kali saat di bangku sekolah menengah pertama (SMP), dan
  • 63 persen Remaja di beberapa kota besar di Indonesia melakukan seks pranikah
Gambaran ini tentunya akan sangat membuat kita khawatir dengan kehidupan generasi Indonesia berikutnya. Bagaimanapun, perilaku seksual yang memang tidak di perbolehkan oleh Agama, harus menjadi patokan untuk bisa berperilaku yang benar. 

Kembali pada issue tadi, bahwa beberapa pakar menyatakan perilaku yg dilakukan oleh subjek pada video yang sedang heboh saat ini, merupakan perilaku seksual yang tidak normal. It's said that he has a narcissisme potential or maybe exhibitionism. umm sebelumnya, mari kita telaah apa itu Narcissisme and Exhibitionism.

  • Narcissistic personality disorder, menurut Kernberg & Kohut, merupakan perasaan yang terlalu berlebihan akan rasa self-importance, yang biasanya sering di barengi dengan perasaan inferior (rendah diri) secara periodik. Their brag for talents and achievements, mereka sangat mengharapkan attention serta adulation atau pujian dari orang lain. Di balik Self-Love ini, mereka memiliki self-esteem yang fragile, oleh karena itu, ia menjadi sangat hati-hati agar dirinya selalu di hargai oleh orang lain, tak mau terlihat tidak mampu di hadapan orang lain, sehingga ia akan menjadi marah atau putus asa jika menerima kritikan. Atau sebagai alternatif lain, untuk mempertahankan self-importance nya ini ia akan bersikap nonchalance atau sikap tak ambil pusing dengan setiap perlawanan yang ditujukan pada dirinya. Mereka sulit sekali untuk menjalin sebuah friendship or love. Mereka hanya meminta affection, symphaty, kesukaan dari orang lain, namun kurang berempati. Ada sebuah pernyataan yang menarik tentang bagaimana orang yang narcissistic ini melakukan hubungan romantic relationshipnya, Campbell pada tahun 1999, membandingkan pasangan/couple yang narcissistic dgn non-narcissistic. Ternyata, narcissistic person akan sangat tertarik pada seseorang yang sangat memuja dan memberikan sikap positif  di bandingkan dengan seseorang yang hanya caring saja. Secara psikoanalitis (Kernberg&Kohut), kepribadian ini merupakan kompensasi dari perhatian serta penerimaan yang tidak adequat dari orang tuanya saat masa kanak-kanak awal. Sedangkan menurut perspektif sosial,  gangguan kepribadian ini merupakan ciptaan dari orangtua yang terlalu membanggakan talenta anaknya, sehingga memiliki pengharapan yang tidak realistik ( Millon & Davis).
  • Exhibitionism,  merupakan suatu perasaan dimana seseorang tidak bisa lagi menahan impuls untuk mempertontonkan dirinya di depan publik. Seseorang yang sangat exhibitionism akan menunjukkan alat kelaminnya (dan sering kali di alami oleh pria), di hadapan seorang wanita. Ilustrasinya adalah jika ada seorang pria dengan berpakaian sangat ketat, kemudian tiba-tiba ia membuka celananya dan menunjukkan Mr P nya pada wanita yang mungkin sedang lewat, atau di tempat-tempat umum, maka selanjutnya ia akan merasa terpuaskan ketika mendengar respon yang keluar dari wanita tersebut, baik itu suatu teriakan karena terkejut atau karena takut, yang pasti The exhibitionism gratification is up from woman's response. 
Well, after we know a little bit about narcissistic and exhibitionism, setidaknya kita bisa lebih mengerti bagaimana perilaku seksual ataupun gangguan kepribadian itu bisa terjadi. Jika boleh berpendapat, menilai seseorang mengalami gangguan seksual ataupun kepribadian terlalu cepat, menurut saya kurang tepat, karena tentu saja, mereka yang lebih pakar, harus mengetahui terlebih dahulu latar belakang seseorang berperilaku, sejak kapan dia melakukan hal itu, mengapa, apa yang menjadi alasannya, hingga sejauh mana tingkat stress orang tersebut jika tidak melakukan perbuatan tersebut, semuanya sampai clear dan belum tentu juga bisa di katakan exhibitionism, jika memang belum di lakukan interview psikologis secara mendalam. Haa..jadi kangen menginterview orang..terkadang suatu kepuasan tersendiri jika kita bisa lebih mendalami permasalahan seseorang tanpa men-judgenya terlebih dulu..^^..

Wallahu Allam Bissawab..


Sumber :
 Alloy. LB, Riskind. JH, Manos. MJ, Abnormal Psychology, New York, America, 2004.





Comments