Skip to main content

Mengapa harus wanita?Id kah ini atau...?

I read the Jakarta Post two days ago, it stated that "Police to deploy female officers at AFF to create "joyous" mood" (The Jakarta Post, Jakarta | Wed, 12/29/2010 4:48 PM | National)...

 and I found some interesting sentence editorial there, here there are:
The police plan to deploy female officers to secure the second leg of the AFF Finals between Indonesia and Malaysia on Wednesday in order to improve the atmosphere.
"The Jakarta Police will create a more joyous and accommodating atmosphere. We will send plenty of female police officers so the atmosphere between the officers and the spectators will be better," National Police chief Gen. Timur Pradopo said Wednesday.

The point is  "the police plan to deploy female officers....in order to improve the---joyous and accommodating---atmosphere, so it will be better. So, what we talking about are, untuk menciptakan suasana yang lebih ceria dan nyaman/ramah, ternyata solusinya adalah dengan lebih banyak melibatkan pegawai polisi wanita...hummm...saya tidak ingin mengkritisi apa yang dilakukan oleh polisi, karena hal itu tentu saja merupakan upaya mereka untuk menciptakan suasana pertandingan bisa berjalan dengan lebih tertib, yang tentu saja perlu dihargai.

Namun, yang menjadi poin utama saya di sini adalah penggunaan tenaga wanita sebagai "penambah kenyamanan atau pengikat suasana yang bisa dikatakan "full of joyous". Saya jadi ingat pelajaran psikologi umum dulu di semester satu, saat saya masih kuliah. Saat itu kita membahas tentang teori "freudian" yang menyatakan bahwa dinamika kepribadian manusia terdiri dari tiga aspek, yaitu id, ego, dan superego. Id merupakan kesadaran yang paling dalam dari diri manusia, biasanya berupa hasrat, nafsu, baik itu berupa nafsu seksual maupun kebutuhan yang paling dasar (eat, sex, etc). Id merupakan unconsiousness, sesuatu yang tersimpan begitu dalam namun tak pernah kita sadari keberadaannya. We just feel it. Ego, merupakan eksekutif bagi Id, artinya segala hal yang di inginkan oleh Id, maka tugas "ego" lah untuk menemukan jalan keluar atau pemenuhan kebutuhan dan keinginannya, yang terkadang menjadi "berlebih". Di sinilah super ego bertindak, ketika "ego" berjalan terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai, atau norma yang di pegang oleh individu tersebut, maka super ego akan "menahan" perilaku yang kurang baik.

Berhubungan dengan id, dulu dosen saya menjelaskan, sering kita lihat iklan-iklan mobil di dampingi oleh seorang wanita yang berpakaian seksi, hal ini sebenarnya tanpa kita sadari merupakan pemenuhan dari "Id" yang terpendam--yang merasakan bahwa dengan kehadiran wanita akan lebih meningkatkan minat masyarakat terhadap mobil yang dijual (promosi). Saat menemukan artikel koran ini, saya jadi teringat kembali dengan penjelasan dosen saya. hehehehe. Kita memang tak pernah menyadari, tapi yaa, meskipun sekarang hal semacam ini sudah di anggap wajar oleh masyarakat kita, namun, di sisi lain hal ini juga menggambarkan betapa pemikiran kita masih begitu dalam dipengaruhi oleh Id atau nafsu..well, wallahu alam bissawab..so, my question is, "who deserve to be called "a human"? when God created us to do things that more noble than this...?