Skip to main content

Breaking your Wall....



...Seorang wanita memasukkan seluruh tubuhnya kedalam sebuah tas, hingga tertutup seperti itu. Apa maksudnya ya..seolah-olah ia sedang ingin menyembunyikan dirinya ke dalam tas tersebut.
Gambar ini sebenarnya mengandung arti filosofisnya tersendiri. A shelter, covered, pelindung atau melindungi diri dari sesuatu yang berbahaya, yang mengancam keberadaannya di dunia ini. Maybe you have heard about self defence or defence mechanism. Dalam istilah psikologi, self defence ini berhubungan dengan bagaimana seseorang melindungi egonya sebagai respon terhadap tuntutan dari lingkungannya.

Flight from self...Dalam kehidupan, tanpa disadari banyak sekali alasan-alasan (excuse) seseorang saat menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan.

Kenapa kamu datang terlambat ---------- "macet pak"
Kenapa nilai ujianmu bobrok---------------"dosennya sie, sensi bu"

Kadang kita membuat topeng dan seribu macam alasan untuk menyembunyikan yang sebenarnya dan menghindari rasa malu, sakit, takut di cemooh orang dan lain sebagainya. Saya juga sering melakukan hal ini tanpa di sadari, saat orang lain bertanya pada saya  "kamu udah kerja gie?" saya menjawab "udah kok" (sambil nyengir ga karuan), ahahaha :p, padahal yes indeed, saya masih menganggur selama setahun kemarin. Tapi bukan tidak berusaha, always berusaha melamar pekerjaan, selalu dapat panggilan interview alhamdulillah, hanya saja Allah belum memberikannya untuk saya...(hehehe, apakah ini suatu bentuk self defence juga ya...gkgkggk)....Bisa saja, dalam diri saya muncul suatu ketakutan atau kesadaran bahwa, sebenarnya saya tidak mampu atau kurang kompeten dalam melakukan pekerjaan itu misalnya, memang, manusia harus selalu berupaya untuk merenungi dan melihat ke dalam dirinya sendiri. Hanya saja ketika kita menyadari kekurangan itu, berusahalah sebisa mungkin untuk tidak melakukan self defence atau cepat-cepat menyadarinya agar tidak menjadi berkepanjangan. Why? Karena self defence itu sendiri dalam ranah psikologis merupakan suatu respon bertahan yang kurang baik. Jika terus dilakukan orang tersebut akan menjadi kehilangan jati dirinya, confuse, atau bahkan memiliki self esteem yang rendah terhadap masalah atau tuntutan yang dihadapinya tersebut.

Sejalan dengan tumbuh kembangnya seseorang, ia pasti akan menemukan dan bahkan seolah-olah dikepung oleh berbagai macam tuntutan baik itu dari dalam dirinya sendiri (berupa needs/kebutuhan), juga dari luar (berupa pressure dari lingkungan) yang terkadang bersifat mengancam rasa aman egonya. Oleh karena itu, untuk melindungi rasa aman egonya tersebut, seseorang bereaksi terhadap tuntutan yang mengancam dengan melakukan self defence (defence mechanism).  Pengertian Defence mechanism ini adalah "respon yang tidak disadari yang berkembang dalam struktur kepribadian individu, dan menjadi menetap, sebab dapat mereduksi ketegangan dan frustrasi, dan dapat memuaskan tuntutan-tuntutan penyesuaian diri".

Orang ini akan terus berusaha mempertahankan dirinya sendiri, seolah-olah tidak mengalami kegagalan, menutupi kegagalannya, atau kelemahannya dengan cara dan alasan tertentu. Semua orang pasti pernah melakukan self defence ini. Ada berbagai macam bentuk self defence yang mungkin perlu kita ketahui, diantaranya :
  • Kompensasi, yaitu menutupi kelemahan dalam suatu hal dengan cara mencari kepuasan dalam bidang lain. Biasanya hal ini dilakukan untuk mensubstitusi prestasi yang nyata, mengalihkan perhatian dari ketidakmampuan, atau memelihara status, harga diri dan integritas.  Ada yang wujudnya berupa reaksi yang berlebihan (overreaction), identifikasi (misalnya orang tua yang selalu membicarakan kelebihan anaknya sebagai bentuk menutupi kelemahan dirinya mencapai hal itu), atau berfantasi dan bermain. Memang tak jarang kompensasi ini sedikitnya membantu individu dalam mencapai kepuasannya, meskipun sebenarnya kompensasi juga termasuk ke dalam penyesuaian diri yang tidak sehat (maladjustment).
  • Sublimasi, yaitu mengarahkan energi-energi drive atau motif secara tidak sadar ke dalam kegiatan-kegiatan yang dapat diterima secara sosial maupun moral. Tujuan sebenarnya adalah untuk mereduksi ketegangan, rasa frustrasi, konflik dan memelihara integritas (keutuhan) ego. Hampir mirip dengan kompensasi namun jika kompensasi biasanya lahir dari perasaan inadequacy, sedangkan sublimasi berkembang dari "guilty feeling" (perasaan bersalah). Contohnya, seorang wanita karir yang belum menikah tapi ingin memiliki anak, namun tidak bisa karena keterbatasan yg dimiliki dlm mencari pasangannya, maka untuk mengarahkan motif/dorongan keibuannya, ia melakukan banyak sekali kegiatan-kegiatan sosial yang berhubungan dengan anak-anak, mengajar atau kegiatan lain yg memberikannya peluang untuk mengekspresikan kecintaannya pada anak.
  • Rasionalisasi, yaitu upaya mereka-reka alasan untuk menutupi suasana emosional yang tidak nyaman, yang tidak dapat diterima, atau merusak keutuhan pribadi (ego) atau status. Dia melindungi dirinya dari kritikan diri sendiri dan orang lain dalam upaya memelihara keutuhan egonya. Perasaan tidak mampu, gagal, dan berdosa merupakan sumber dari penyebab rasionalisasi ini. Misalnya, seorang pegawai terlambat datang bekerja, dengan alasan kendaraannya terjebak macet, seorang siswa tidak lulus ujian, dengan alasan sakit. Kasus tersebut memiliki sumber penyebab yang sama, yaitu ketidakmampuannya dalam mengahadapi kegagalan secara wajar, menghadapi kelemahan, dan menerima tanggung jawab. Para psikologi sepakat bahwa rasionalisasi ini dapat merusak integritas pribadi dan penyesuaian diri yang sehat. Karena perilaku ini tidak ada bedanya dengan berbohong, keduanya sama-sama menunjukkan gejala inkonsistensi, kontradiksi pribadi, dan inkoherensi. Seseorang melakukan hal ini karena hanya untuk memelihara integritasnya yang fiktif dan menghindari the real situation/kenyataan.
  • Proyeksi, merupakan mekanisme pertahanan diri dimana individu melepas dirinya sendiri dari kualitas atau keadaan yang tidak diinginkan dengan cara mengkambinghitamkan orang lain atau sesuatu sebagai penyebabnya. Contoh, seorang pegawai yang gagal mengerjakan tugasnya, memproyeksikan kegagalannya pada mesin, bukan pada dirinya yang tidak mampu menyelesaikan tugasnya, atau seorang remaja yang nakal memproyeksikan penyebab kenakalannya kepada orangtuanya. Hal ini sama dengan blamming to others. Ketika seseorang mencela atau menyalahkan oranglain, karena ketidakmampuan dan kegagalannya, hal itu merupakan indikasi yang tepat bahwa dia sebenarnya merasa bersalah, dan secara tidak langsung dia telah mencela kelemahan dirinya sendiri.
  • Represi, yaitu proses penekanan pengalaman, dorongan, keinginan, atau pikiran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip moral dan sosial ke alam tak sadar, karena mengancam egonya. Akhirnya orang tersebut seolah-olah tidak tau apa-apa, dan tidak ingin tahu yang nantinya bisa mengarah pada gangguan tingkah laku.
Sebenarnya masih ada bentuk-bentuk self defence yang lainnya, seperti Introyeksi, Identifikasi, SourGrape, Egosentrisme/Superiority (sikap yang dipandang efektif untuk melindungi dampak buruk dari perasaan inferioritas dan perasaan gagal dalam mencapai sesuatu yang disenangi. Pura-pura yang tidak disadari untuk mencapai kualitas superior, dan usaha untuk menyembunyikan inferioritasnya. Biasanya karena perasaan tidak nyaman, rendah diri atau orang tua/keluarga terlalu membangga-banggakannya).


Semua orang pasti pernah, bahkan tanpa disadari melakukan self defence. Saya sendiri mengakui sering kali self defence ini muncul saat berhubungan dengan suatu kondisi yang di rasa malu dan muncul rasa takut untuk mengakui bahwa hal tersebut gagal saya lakukan atau saya dapatkan. Anda sendiri, merasa pernah melakukan self defence yang mana? :) Saya jadi teringat pengalaman saya dulu, kerabat dekat saya pernah mengatakan di blognya bahwa "lebih baik punya pekerjaan daripada punya pacar"..."kalau jalan-jalan sama pacar nanti jaim..."  dari perkataannya itu nampak ada suatu upaya untuk melindungi kekurangannya/kelemahannya dan juga melindungi egonya, sebenarnya jika melihat tulisan-tulisannya yang lain ia ingin sekali punya pasangan/kekasih/calon suami namun belum juga ia dapatkan, dia adalah seorang wanita karier yang penuh ambisius dan perfeksionis, sehingga sebagai pelindung dirinya (self defence), akhirnya ia berkata seperti itu. Masih wajar jika hal itu diungkapkan sebagai bentuk perlindungan dirinya atau untuk membahagiakan dirinya sendiri, namun jika hal tersebut diucapkan untuk membalas perilaku orang lain, dengan penuh kecemburuan, ya jangan dong, hal seperti inilah yang keliru.

Sebagai manusia kadang selalu ingin merasa di atas, merasa paling benar, dan haus akan pujian. Jika ada satu saja tempat kosong di dalam diri kita yang tidak ingin orang lain mengetahuinya, kita akan berusaha mati-matian menutup-nutupinya. Ini juga merupakan suatu defence, yang menurut saya, jika terus didiamkan seperti ini, dan kita tidak pernah mau menyadarinya, bertanggung jawab atas segala kelemahan, kegagalan dan kekosongan diri, kita akan kehilangan integritas diri kita sendiri, kita akan menjadi orang yang tidak bisa belajar atau mengambil hikmah atau makna terdalam yang selalu ada di balik suatu cerita.

Semua bentuk self defence yang saya tuliskan di atas, pada intinya semuanya sama-sama bertujuan untuk mereduksi ketegangan, konflik maupun  frustrasi, dalam upaya untuk melindungi kepentingan egonya. Sebenarnya antara wajar dan tidak wajar seseorang melakukan self defence ini. Jika self defence yang dilakukan seseorang tersebut hingga mendistorsi atau membuyarkan kenyataan serta membuat hubungan sosial dengan orang lain menjadi tidak baik, serta mengarah pada kerusakan ego, maka self defence itu bisa termasuk ke dalam mal adjusment (abnormal). So, memang harus hati-hati dalam hal ini. Saya pernah melakuan self defence, karena saya merasa gagal mendapatkan pekerjaan yang saya impikan, lalu membuatnya buyar dan akhirnya membuat konflik dengan orang lain. Setelah itu orang tersebut malah melakukan hal yang sama pada saya, ia mengungkapkan seribu macam alasan yang juga sebenarnya untuk menutupi kelemahan atau kesalahannya. Kalau sudah seperti ini, repot dan merugikan diri sendiri serta orang lain. Kita boleh saja menutupi kelemahan, kegagalan yang kita miliki dengan melakukan sesuatu hal yang lebih positif. Hanya saja perlu diketahui lebih dalam lagi, jangan sampai kita menajdi cemburu pada orang lain, menyalahkan, saling balas-membalas atau ejek-mengejek hanya karena ingin melindungi ego masing-masing. Dan juga jangan melakukan represi yang terlalu berlebihan, hingga merasa pura-pura tidak tahu, masa bodoh, akhirnya merasa menajdi superior. Harus lebih sadar akan kesalahan dan you must be move on...jangan terpaku pada masa lalu. Akuilah kekurangan atau kegagalan itu dengan penuh keihklasan kepada Tuhan. Bahkan seharusnya lebih bersyukur. Karena justru dari masalah tersebut, ada pelajaran yang dapat di ambil. Sadarilah dan sadarilah, terlalu ambisius, terlalu cuek itu juga tak baik. Jadilah manusia yang utuh, berintegritas, dapat mengatasi masalahnya dengan tidak merendahkan orang lain, selalu mengembalikannya pada yang Kuasa.

Agar terhindar dari self defence yang berkelanjutan dan merusak, maka, pertama, sadari terlebih dahulu kelemahan dan kegagalan kita dengan penuh tanggung jawab, akui jika kita memang salah, lalu kemudian perbaiki dengan meminta maaf dan terakhir syukutrilah hidup ini dengan perbuatan yang benar-benar baik dan ada barokahnya/manfaatnya untuk orang lain. Dan satu lagi, agar tidak menjadi rendah diri karena mengalami kegagalan/kekurangan, dalam hal apapun itu, carilah kelebihan dan kekuatan diri masing-masing. Setelah itu pergunakan kekuatan itu untuk melakukan sesuatu yang lebih bermakna di mata Tuhan. Bukan sekedar sebagai pembuktian pada orang lain bahwa saya bisa, saya tidak lemah, saya kuat, jika anda berpikir seperti itu, maka yang akan anda lakukan tanpa disadari  adalah hnaya sebuah kompensasi, rasionalisasi, atau yang lainnya atau hanya untuk memberikan kesenangan pada diri misalnya, itu juga kurang baik. Jalanilah dan ungkapkan itu sebagai wujud syukur pada Tuhan. Karena akan berbeda hasilnya saat kita berusaha mencapai prestasi setinggi-tingginya karena ingin di puji oleh orang lain, untuk meningkatkan prestise atau bahwa saya kuat, tidak lemah, semuanya hanya akan menjadi semu belaka.  Berbeda halnya dengan kita melakukan upaya terbaik karena ingin mendapatkan RidhoNya dan membantu lingkungan, pasti akan berbeda. Dalam prosesnya tidak akan ada unsur ria, membuat orang lain iri atau sakit karena perilaku kita, yang kita fokuskan hanyalah bagaimana caranya agar orang lain nyaman dekat dengan diri kita, tidak cemburu pada kita, malah justru membantu dan menyumbangkan yang terbaik untuk oranglain. See trough your self...bukan pencapaian semu atau fiktif yang kita inginkan tapi benar-benar kebermaknaan hidup.

Begitu ya...mudah-mudahhan, bisa menangkap isinya dan bisa dicerna dengan baik. Jika ada yang tidak berkenan dengan kata-kata dalam tulisan ini, saya mohon maaf. Yang baik itu datangnya dari Allah dan kesalahan adalah datang dari saya pribadi...

Akuilah dan Sadarilah kesalahanmu, ke-ego-anmu,  karena akupun begitu...Kita tidak akan menjadi orang yang lemah dan rendah kok dengan mengakui kesalahan dan kegagalan, justru sebaliknya, itu akan lebih menguatkan diri kita... Demi Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang...


Wallahu Allam....

Comments