Skip to main content

What is Success..?


Semua orang pasti ingin sukses, siapa sie yang ngga mau sukses. Sebenarnya apa arti kata sukses menurut kalian. umm, setiap orang memiliki makna "kesuksesan" yang berbeda-beda.  S-U-K-S-E-S bisa diartikan sebagai kondisi dimana seseorang telah mencapai titik puncak dalam kehidupannya atau saat seseorang merasa segala kebutuhannya sudah terpenuhi, atau bisa juga saat seseorang bisa memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Sukses itu bisa apa saja dan kalian pasti punya versinya masing-masing.
Kesuksesan menurut Mario Teguh, seorang motivator yang "sukses" dalam acara "Mario Teguh Golden Ways" di salah satu statiun TV Swasta Indonesia, beliau mengatakan bahwa kesuksesan adalah bagaimana kita keluar dari arena "comfort zone" dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya yang dibarengi dengan rasa rendah hati terhadap sesama.
Muhammad Assad, seorang penulis muda yang mendapatkan beasiswa S2 di Qatar dan "sukses" menulis buku "Notes From Qatar", mengungkapkan dalam bukunya, bahwa kesuksesan bukan sekedar mencapai keberhasilan materi atau penghargaan semata namun yang lebih penting adalah bagaimana kita berhasil mencapai cita-cita atau tujuan hidup dengan nilai murni atau prinsip seperti kejujuran, kerja keras, dan juga nilai agama, "success with values".
Pernyataan dari dua tokoh yang "sukses" menginspirasi banyak umat ini membuat saya teringat akan pernyataan seorang guru besar umat manusia, "the great teacher of human kinds", teladan umat, model for all human beings, Muhammad SAW.
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan  hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah" (Al-Ahzab:21)
Rasulullah pernah bersabda bahwa "The best people are those who are most useful to others". Kalimat ini benar-benar menggugah hati dan sangat memberikan inspirasi. Bagaimana proses "inspiring" masuk ke dalam jiwa yang sedang belajar untuk menjadi lebih "dewasa" ini, just read this story :)

Ambisius yang bukan Ambisi
Selama menjalani kehidupan sebagai seorang wanita dan sebagai seorang anak,  saya selalu dipertemukan dengan orang-orang yang ambisius, pekerja keras dan sangat fokus dengan tujuan hidupnya, baik itu teman maupun keluarga, hal ini mempengaruhi saya untuk memiliki cita-cita yang tinggi, meskipun kesannya menjadi terlalu "perfect" or ambisius.
Tumbuh di lingkungan seperti ini membuat saya berusaha--too ambisious---untuk menyamai kesuksesan orang lain, namun lama kelamaan perilaku ini membuat saya "lelah" dan "cape". Ketika tidak berhasil menyamai mereka yang menurut saya "sukses" akhirnya "putus asa" dan desperate, atau bahasa gaulnya "madesu"...seolah-olah masa depan suram banget deh.
Belum lagi satu tahun yang harus saya lalui dengan "kosong" alias tanpa pekerjaan dan aktifitas yang berarti (mau bilang "pengangguran" tapi rasanya gimana gitu ya...ahahaha). Sampai pada puncaknya yaitu saat menerima kegagalan yang bertubi-tubi, "tertolak" dalam dunia pekerjaan again and again, kata "sukses" makin menjauh dalam hidup. Bukan itu saja, cibiran dan sikap tak acuh dari beberapa keluarga pun membuat  lebih tak semangat lagi.
Hingga saya melihat ada satu pintu yang terbuka, dan  itu adalah semata-mata "pintu rahmat" dari Tuhan.
Pertanyaannya dimulai pada diri sendiri "untuk apa saya hidup dan apa yang saya inginkan dalam hidup ini?". Pastinya menginginkan kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan dunia-akhirat. Semua muslim pasti menginginkan hal yang sama. Tapi terkadang lupa "cara" nya.
Bukankah manusia itu diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (Qs. Adz-Dzariyat (51):56)

Selama ini kita sering mendikotomikan antara "duniawi" dengan  "jalan agama", masalah dunia dan agama dipisahkan oleh persepsi kita sendiri yang terlalu fokus dengan "kebahagiaan duniawi". Padahal kita diciptakan dan hidup di dunia tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Tapi ibadah yang kita bayangkan hanya sebatas, sholat, puasa, dan yang lainnya, sehingga saat kita belajar, bekerja, berdagang, atau bersosialisasi, lepas dari "jalan agama" dan mengkategorikannya sebagai "masalah duniawi". Seharusnya, ibadah itu mencakup semua aspek kehidupan kita, baik saat kita belajar, bekerja, berdagang atau saat bekerja sama dengan orang lain, tujuannya hanya satu yaitu sebagai bentuk ibadah kepada Allah.

Kesuksesan hidup itu sendiri memiliki makna yang luas, orang boleh mengatakan bahwa, saya sukses kalau sudah bisa punya mobil, rumah mewah, isteri/suami yang cantik, anak-anak yang pintar, karir yang mantap, bisa jadi Boss, punya mertua kaya raya, bisa sekolah ke Luar Negeri, dll. Semua hal ini sah-sah saja, namun yang membedakannya adalah cara dan tujuan (niat) kita meraih kesuksesan tersebut.
Apakah seseorang mendapatkan kesuksesannya itu dengan cara "menghalalkan segalanya", mendzolimi dan menyakiti perasaan orang lain, korupsi, atau dengan kerja keras dan kejujuran? Lalu apa tujuan kita mencapai kesuksesan, apakah karena sebatas ingin mendapatkan uang yang banyak, agar orang lain menjadi segan, agar kita terlihat 'hebat", bisa mendominasi dan menginjak orang lain dengan kekuasaan yang kita miliki atau karena ingin membantu orang lain, melayani dan membahagiakan keluarga dan membuat Tuhan bahagia?
Rasulullah pun pernah bersabda:
"sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dihijrahi”. (HR. Al-Bukhori: 1)
 Intinya, kita boleh punya seribu impian kesuksesan yang ingin diraih, tapi usahakan bukan sekedar sukses yang didapat, namun cara dan tujuan/niat dalam menggapai kesuksesan itu yang lebih penting. Success with value kata Muhammad Assad.
Kita semua boleh mendapatkan kesuksesan yang sama atau berbeda, si A mungkin sukses bikin buku yang laris, si B sukses punya kapal pesiar, dll, tapi di mata Tuhan yang membedakannya hanya satu, yaitu ketaqwaannya.

"...Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu sekalian" (Qs. Al Hujurat (49):13).
 Apalah arti sebuah kesuksesan jika membuat kita menjadi pribadi yang justru tidak baik, menjadi sombong dan arogan, mengutip kata pak Mario Teguh, bahwa suskses berarti berubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan tetap rendah hati. Rasulullah pun mengatakan bahwa:
'Tidak masuk surga orang yang ada dalam hatinya seberat biji sawi dari kesombongan...." dan "Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (HR.Muslim)
Lagipula, bukanlah kesuksesan itu sendiri yang menjadi esensi bagi perilaku manusia, namun, proses dalam mencapai keberhasilan itu lah yang akan mendewasakan dan "memanusiakan manusia" sesuai dengan fitrahnya. Meskipun apa yang menjadi impian kesuksesan kita tidak tercapai, tapi jika kita sudah mengusahakannya dengan nilai-nilai dan prinsip kebaikan, maka sesungguhnya kita pun telah sukses, sukses menghadapi tantangan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan. Sependapat dengan Albert Einsten yang ditulis dalam buku Muhammad Assad, Notes From Qatar "Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value" .

"it's a way and our intention to achieve our goal, in order to obtain the blessing of God"...niat, tujuan, dan Ridho Allah semata.... 

With Love

Ghie....

Comments