Skip to main content

Bahasa Daerah Yang Terancam Punah

foto diambil dari canaksaindonesia.wordpress.com



Setiap budaya pasti memiliki caranya masing-masing untuk mengeskpresikan produk budayanya, ada yang melalui tulisan, gambar, tarian, benda seni, dan juga bahasa. Yup, bahasa sebagai alat komunikasi manusia yang utama, juga merupakan produk budaya. Suatu bahasa akan 'eksis' jika bahasa tersebut masih digunakan oleh kebudayaan tertentu. Negara Indonesia yang saat ini memilki 33 provinsi dengan 33 macam kebudayaan daerah yang berbeda-beda,  juga berarti memiliki 33 macam bahasa bahkan lebih yang "eksis" di seluruh kepulauan nusantara. Namun, apakah setiap bahasa dari berbagai kebudayaan ini masih benar-benar "eksis" atau malah sedang mengalami "kepunahannya"?.

Membaca salah satu artikel dari website VOA tentang adanya kemungkinan ratusan bahasa daerah di Indonesia mengalami kepunahan, membuat saya bertanya pada diri sendiri "kok bisa?" dan menyadari satu hal, ternyata selama ini saya kurang "ngeh" terhadap bahasa daerah saya sendiri. Saya dilahirkan dan dibesarkan di keluarga sunda, karena kedua orang tua saya memang berasal dari suatu desa yang bernama "Rajadesa" di Ciamis, Jawa Barat. Sebagai bagian dari keluarga "urang" sunda, seharusnya saya bisa "lekoh" berbicara dan berbahasa sunda, tapi kenyataannya untuk berbicara dalam satu kalimat bahasa sunda yang "jentre" pun saya tidak bisa, meskipun sedikit-sedikit saya bisa mengerti saat kedua orang tua atau keluarga yang lain sedang berbicara dalam bahasa sunda. Jika semua orang sunda seperti saya (tidak bisa berbahasa sunda), pantas saja jika lama kelamaan bahasa sunda menghilang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat "tatar sunda". Namun, untungnya tidak seperti itu, bahasa sunda masih ada hingga sekarang. Lalu, bagaimana dengan bahasa daerah yang lain?.

Bapak Sugiyono, Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa, Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, mengatakan bahwa ratusan bahasa daerah di Indonesia dapat terancam punah karena jarang digunakan, bahkan beliau memperkirakan hanya sekitar 10 persen saja bahasa yang dapat bertahan pada penghujung abad ke 21 nanti. "Dari 746 bahasa daerah di Indonesia kemungkinan akan tinggal 75 saja..." ungkap Sugiyono dalam artikel  VOA, september 2011. Beliau menjelaskan salah satu penyebab terancam punahnya bahasa daerah adalah karena urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Saat dua orang menikah berasal dari suku atau daerah yang berbeda, kemudian mereka pindah ke kota, biasanya mereka akan terpengaruh dengan bahasa yang digunakan secara umum oleh orang perkotaan-berbahasa indonesia-dan akhirnya mereka meninggalkan bahasa daerahnya masing-masing, begitu penjelasan Pak Sugiyono.

Coba kita bayangkan dari 746 bahasa hanya tinggal 75 bahasa saja yang tetap "eksis", dan Pak Sugiyono menambahkan bahwa dari ke-746 bahasa daerah tersebut, ternyata hanya 9 bahasa yang memiliki sistem aksara. Keberadaan sistem aksara atau tulisan itulah yang membuat 9 bahasa ini bisa bertahan, diantaranya adalah bahasa bali, aceh, bugis, sunda, jawa, batak, lampung, melayu, dan sasak. Berbicara tentang sistem aksara, bahasa sunda memiliki suatu aksara yang disebut sebagai aksara Swara dan aksara Ngalagena, gambarnya bisa dilihat seperti di bawah ini :
aksara ngalagena (sumber: wikipedia)

aksara swara (sumber: wikipedia)


Kalau dilihat-lihat, aksara sunda ini memiliki kemiripan dengan aksara "Hiragana" dan "Katana" dari Jepang, bahkan cara menyusun huruf tersebut menjadi suatu kata pun hampir mirip. Saya baru mengetahui ada aksara sunda seperti ini setelah menonton salah satu program acara di Statiun TV Swasta Indonesia, yang kebetulan saat itu sedang memperkenalkan beberapa tokoh dari kalangan muda berbakat yang "concern" terhadap lingkungannya. Tersebutlah Sinta Ridwan, seorang gadis muda lulusan S2 Filiologi Unpad (Universitas Pajajaran) Bandung, yang memilki cita-cita untuk membangun sebuah Museum Digital Naskah Kuno Indonesia. Selama ini ia juga mengajarkan aksara kuno sunda kepada mereka yang memang ingin mempelajari naskah kuno lebih dalam. Kelas naskah kuno yang diprakarsai oleh Sinta Ridwan ini biasanya dilaksanakan di Gedung Indonesia Menggugat, jalan Perintis Kemerdekaan Bandung. Semangat Sinta Ridwan untuk terus menjaga warisan budaya daerah Indonesia inilah yang mungkin patut kita contoh sebagai generasi muda. Hal ini pula yang diungkapkan oleh Bambang Kaswanti Purwo, pengamat bahasa dari Universitas Atmajaya Jakarta dalam artikel VOA, bahwa dengan mengajarkan bahasa daerah kepada anak, akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar bahasa daerah sekaligus kekayaan yang dimiliki oleh bahasa daerah tersebut. Beliau juga menganjurkan agar setiap orang tua dapat terbiasa menggunakan bahasa daerah di rumahnya dan menghimbau Kementerian Pendidikan Nasional untuk mulai mewajibkan setiap murid sekolah menguasai setidaknya satu bahasa daerah agar tidak punah, begitu penjelasan yang berhasil di lansir dalam artikel VOA mengenai hampir punahnya bahasa daerah di Indonesia.

Menurut Profesor Universitas Nanzan Nagoya Jepang, Mikihiro Moriyama, menjadi orang yang multilingual memiliki banyak keuntungan, karena dengan mempelajari suatu bahasa, lambat laun seseorang dapat mempelajari budaya bangsa dimana bahasa itu berasal. Beliau juga menambahkan bahwa dengan mengenal, mempelajari dan menguasai lebih banyak bahasa adalah lebih baik. Sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Profesor Mikihiro dan Sinta Ridwan, bahwa dari suatu aksara atau naskah kuno, kita bisa melihat dan belajar berbagai macam kekayaan budaya yang ada di dalamnya, baik itu gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar mencintai alam, dan sastra orang-orang masa lalu. Oleh karena itu, pembiasaan serta kesensitifan kita terhadap  penggunaan bahasa daerah, mungkin setidaknya akan membantu terhadap ke "eksisan" dan "penjagaan" akan warisan budaya daerah Indonesia. Siapa lagi yang akan menjaga warisan budaya dan bahasa bangsa selain kita sendiri. Semoga di awal tahun yang baru ini, membawa berjuta semangat dan hasrat untuk terus mencintai dan berusaha mempelajari budaya daerah kita masing-masing. Kayakanlah dirimu dengan berbagai budaya bangsa^^.

Comments

Samidnawa said…
Wah, selamat ya mbak atas kemenangannya...:D

terima kasih atas bahasan menarik dari artikel ini yang mengajak setiap orang Indonesia untuk ngeh terhadap bahasa daerah nya sendiri.

salam ngeblog
Ghie-Ghie said…
iya makasih ya :D...ayo ikutan kontes ngeblognya...terus semangat menulis yaa...salam ngeblog juga :)
Andi Kata said…
Sharing sedikit, Mbak. Indonesia memang kaya akan khazanah Bahasa Daerah. Suatu hari temanku pulang dari Nusa Tenggara (aku lupa NTT atau NTB). Nah, dia bilang ke aku: Di sana aku makan 'asu'. Aku langsung kaget. Kan, 'asu' dalam bahasa Jawa artinya 'anjing'. Padahal, setahuku sohibku itu muslim.

Ternyata, 'asu' dalam bahasa NT/B/T itu, artinya 'kerbau'. Weleh... weleh..

Dan ternyata pula, di NT/B/T itu, setiap kampung punya bahasa daerah masing-masing. Heboh.

Selamat atas kemenangannya, Mbak Ghie-Ghie (Taring atau Geraham?) Kidding, yah, Mbak...

Salam kenal dari andikata.blogdetik.com. Baru mulai belajar blogging niyy Mbak. Mohon do'anya. Terimakasih.
Ghie-Ghie said…
hehe...gpp...panggil aja gigi geraham...looh hehehe...umm...subhanallah ya...Indonesia itu memang kaya dengan budaya...sumber alamnya, dll...tinggal bagaimana me-managenya ya..:) salam blog juga dan selamat menulis :) Jangan lupa ikutan lomba blognya yaa.. :)