Skip to main content

Berbagi Kisah di Museum Pos Indonesia...

Kring...kring...bunyi sepeda pak pos mengantarkan surat dari kakanda untuk adik tercinta.... *Sepenggal kisah romantisme dari tahun 45, saat surat-menyurat masih bersahaja dalam kehidupan dua remaja yang dilanda cinta. 

Surat merupakan alat komunikasi tertulis. Sejak zaman kerajaan hingga saat kini kegiatan surat-menyurat tetap dilakukan oleh manusia, dulu biasanya para raja menyuruh "gandek" atau pesuruh tingkat atas untuk menyampaikan surat kepada kerajaan lain. Duta kerajaan akan mengantarkan surat baik lewat perjalanan darat dengan berjalan kaki atau berkuda, ataupun melalui perjalanan laut dengan perahu, sampan, jukung, kapal layar dan kapal dagang. Kegiatan surat menyurat pada zaman kerajaan juga terjadi diantara dua kerajaan yang berbeda negara seperti  Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dengan Kerajaan Cina. Bukti kegiatan surat menyurat antar bangsa ini dapat kita lihat di relif Candi Borobudur dan Candi Prambanan. (Penulis belum bisa membuktikannya sendiri, karena kita harus lihat langsung ke Candi Borobudur untuk melihat gambar-gambar relief yang ada disana). Selain itu, kita juga bisa melihat beberapa bukti kegiatan surat-menyurat ini dari prasasti-prasasti kuno yang ditemukan di berbagai kerjaan, seperti Kerajaan Sriwijaya, yang masih menggunakan bahasa Palawa. Alat tulis yang digunakan saat itu pun masih sangat sederhana, seperti batu, kayu, dan daun lontar.

Bercerita tentang surat menyurat ternyata mengasyikkan juga ya. Saya baru mengetahui sejarah tentang surat saat berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Bandung, tepatnya di sebelah kiri Gedung Sate. Saya dan tiga sekawan (aciew, teh arie, dan icha) pergi ke sana sekitar 6 (enam) bulan yang lalu, haa, sudah cukup lama sie, tapi baru sempat saya ceritakan sekarang. Saat itu, teh arie yang paling antusias di antara kita, karena menurut pengakuannya, dia belum pernah pergi ke museum, sama sekali, so that time was the first time for her visited the museum. Akhirnya kita tiba di tujuan sekitar pukul 13.00 dan tepat di depan gerbang sebelum museum, kami sempat mengabadikan beberapa foto. 

Gedung PT Pos Indonesia
Gedung ini dibangun sekitar tahun 1920 oleh arsitek J. Berger dan Leutdsgebouwdienst, dan sejak tahun 1933, gedung bersejarah ini resmi difungsikan sebagai museum Pos Indonesia, yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Museum PTT (Museum Pos Telegrap dan Telepon).

Setelah bertanya ke salah satu petugas penjaga alias satpam, ternyata letak Museum Pos itu agak sedikit menjorok dan letaknya di paling ujung bangunan, kalau orang awam yang baru pertama kali ke sana, pasti sedikit bingung, tapi tenang, ternyata ada tandanya, jika kalian melihat patung kepala Mas Soeharto (Salah satu Tokoh Pos Indonesia Ternama), itu artinya tepat di sebeleah kiri patung tersebut, kemudian belok sedikit ke kanan, museum pos indonesia sudah melambai pada kita untuk dikunjungi. Ini dia patung kepala Mas Soeharto, namanya memang mirip dengan mantan Presiden RI, tapi sejarah dan pengabdiannya tentu berbeda, nanti penulis akan sedikit menceritakan tentang kisah tragis Mas Soeharto, so, ikuti terus yaa^^...

Patung Mas Soeharto
So, kalau kalian melihat patung ini, artinya sedikit lagi kita sampai di museum pos. Untuk memasuki museum, kita akan menuruni beberapa anak tangga. Di dinding-dindingnya terdapat beberapa gambar depot pos yang terpajang dengan rapih. Kita juga bisa melihat replika kehidupan pos, kereta pos, sepeda yang digunakan untuk mengantarkan pos, baju tukang pos, beberapa kotak surat hingga berbagai macam koleksi perangko dan surat-surat serta naskah emas.

Ini adalah salah satu foto label pos yang saya suka. Sayangnya tidak tertulis dari tahun berapa, jadi tidak bisa mengira-ngira, yang pasti kalau dilihat dari bahasa dan tulisannya, label pos ini berasal dari Belanda.

Bukan label ini saja yang nampak dipajang di setiap dindingnya, ada juga beberapa label depot pos lain, yang digunakan sebagai simbol kantor pos di Indonesia.

Jenis label depot terbaru dapat kita temui saat kita pergi ke kantor pos. Biasanya kita akan melihat simbol depot yang berwarna orange terpajang di dinding kantor pos.
Alat yang saya temukan berikutnya adalah kotak surat, ternyata ada berbagai macam kotak surat yang saya temui di sana, dari yang bentuknya sangat sederhana hingga kotak surat yang sering kita lihat saat ini. Berikut beberapa gambar kemunculan kotak surat tersebut:

Gambar di atas adalah sebuah kotak surat yang tidak diketahui tahunnya, hanya ada angka 1457 di bawah kotak surat tersebut, apakah itu sebuah nomor saja atau memang tahun, saya kurang tahu, yang pasti kotak surat ini terbuat dari kayu dan bentuknya masih sangat sederhana. Ada satu lagi kotak surat seperti ini


Seperti kita lihat, model dan bentuk kotak surat ini sama dengan yang di atas, mungkin mereka memang berasal dari satu jaman ya.
Selain itu, ada juga kotak surat yang bernama Bis Surat, begitu nama yang terpajang di atas benda tersebut. Some of them were came from Jerman, Japan, and Holland. Bis-bis surat ini digunakan untuk mengumpulkan surat atau majalah yang dikirimkan dari beberapa pelosok daerah. Gambarnya seperti di bawah ini.
Ini adalah Bis Dalam atau Claus Sistem, yang digunakan pada tahun 1890, berasal dari Jerman, kegunaannya adalah untuk mengangkut surat-surat serta majalah. Mirip penggilingan daging ya. hehehe.

Bus Surat Belanda yang digunakan di Irian Barat
Diantara jajaran Bus-Bus surat, ada salah satu mesin perangko, yang digunakan untuk mengeluarkan perangko, ya sama halnya seperti mesin botol minuman, tinggal masukan koinnya, lalu perangko akan keluar.
Mesin Perangko
Tertulis pada mesin perangko, bahwa mesin ini digunakan pada jaman Belanda dan dibuat di Jerman. Dengan membeli koin token sebanyak 2,5 cent maka akan keluar dua buah perangko yang berukuran 12,5 cent. Saya baru tahu ternyata dulu pun ada ya mesin penjual otomatis, coba kalian bandingkan dengan mesin perangko otomatis modern yang satu ini.
Mesin Otomatis Penjual Benda Pos
Entah saya yang OON atau bagaimana, tapi bagi seseorang yang tinggal di jaman yang katanya serba modern, baru pertama kali ini saya melihat mesin otomatis penjual benda pos #garuk-garuk kepala. Jadi, bagi mereka yang baru tahu (berharap ada yang belum tahu juga yee, hehehe), seperti inilah Mesin Otomatis Penjual Benda Pos. Mesin  ajaib ini seperti saku Doraemon, karena bisa mengeluarkan perangko, kartu pos, amplop, surat, dll, :p. Menurut cerita, kita bisa menjumpai mesin ini di kantor-kantor pos besar, umm, coba ya nanti saya mampir dan coba buktikan, apakah mesin otomatis ini masih benar-benar ada atau sudah menjadi cerita dan hanya diabadikan di museum. Okeehh, lanjuutt.
Kotak surat, bus surat, depot pos, ternyata memiliki sejarahnya masing-masing, dan mereka bukanlah benda yang tiba-tiba muncul begitu saja, namun mereka juga bertransisi sesuai dengan perkembangan jaman. Nah, yang satu ini adalah replika bagaimana penampakkan "perjalanan tukang pos" di masyarakat pada satu era tertentu, yang sekaligus bikin bulu kuduk saya juga merinding karena saking sepinya tuh museum, apalagi waktu melihat replika boneka orang-orangan yang berperan sebagai tukang pos dan warga, nampak seolah-olah mereka memang hidup. heeee....
Replika Pos Keliling Desa

Melihat replika di atas, saya jadi teringat dengan kehidupan masa kecil di kampung nenek, Rajadesa, Ciamis, ya, sepertinya saya sedikit ingat pernah melihat tukang pos keliling seperti yang ada dalam gambar. Artinya, usia saya memang sudah tidak muda lagi ya, humm.

Baiklah, sebelumnya saya menjanjikan akan bercerita sedikit tentang kisah hidup Mas Soeharto. Oke akan saya jelaskan, jadi beliau adalah salah satu tokoh yang sangat berjasa dalam meningkatkan pelayanan Pos di Indonesia, namun di penghujung hayatnya, beliau harus meneguk kisah tragis yang meninggalkan teka-teki misterius. Disebutkan bahwa pada masa agresi Belanda ke II pada tahun 1948, tepatnya tanggal 19 Desember, Belanda melakukan penyerbuan ke Yogyakarta. Pada saat itu, kebetulan Mas Soeharto yang sedang menjabat sebagai Kepala PTT beserta keluarga sedang berada di Yogya. Belanda akhirnya mendatangi rumah Mas Soeharto dan keluarganya, kemudian menculik Mas Soeharto. Sejak malam penculikannya itulah, jejak Mas Soeharto dan jenajahnya  tidak dapat ditemukan. Hilangnya Mas Soeharto, menolehkan luka kesedihan dan meninggalkan kesan mendalam diantara para karyawan PTT. Sebagai kenangan bagi pribadi Mas Soeharto, salah satu pecinta dan  pengagum tokoh ini, membuatkan sajak untuknya, yang  dipajang di dinding museum, seperti inilah isi sajak tersebut:

Kepada Pak Soeharto
Seribu tanya timbul terasa. Tak kudapat penawar hati. Si Anu tahu, kata begini. Si Polan lihat, kata begitu. Yang benar tetap membisu. Ku menjadi putus asa. Aku tahu, tak semua percaya. Ada yang tidak suka. Malah ada yang tertawa. Tapi tak mengapa. Karena ku tahu mereka tak tahu. Aku dan mereka yang tahu. Selalu menjunjung Insan Kamil, Pegawai Ulung, Pemimpin Adil.
Ya, begitulah isi sajak yang diberikan oleh salah satu pencinta Mas Soeharto dalam mengekspresikan isi hatinya yang mungkin merasa sangat kehilangan atas kepergian beliau.
Di bawah ini adalah beberapa foto Mas Soeharto yang dipamerkan di museum Pos Indonesia.

Lukisan Mas Soeharto dan Keluarga
Perangko Mas Soeharto
Foto Mas Soeharto beserta Isteri dan Anaknya
Berbagai macam peristiwa dapat kita temui di Museum Pos, selain sepenggal kisah Tokoh Pos Indonesia Mas Soeharto, di sini kita juga bisa melihat berbagai macam koleksi perangko. Ada ribuan bahkan lebih perangko yang dipamerkan di salah satu ruangan bawah museum pos Indonesia.
Gambar yang paling menarik adalah gambar "perangko pertama" di dunia yang disebut dengan "The Penny Black".

The Penny Black
Perangko The Penny Black ini bergambar kepala Ratu Victoria, yang diterbitkan pada tahun 1840 dan di jual seharga satu penny. Di samping lukisan perangko Penny Black, terdapat lukisan Sir Rowland, yang menciptakan perangko 'The Penny Black" sekaligus tokoh yang pertama kali memprakarsai penggunaan perangko sebagai alat ganti pembayaran surat pos.

Sir Rowland Hill
Sir Rowland dilahirkan di Inggris dan ia merupakan pencetus lahirnya perangko. Sebelum perangko ditemukan, saat seseorang mengantarkan surat, maka si penerima surat harus membayar uang administrasi jasa pengantaran pada si pengantar. Suatu saat terjadi peristiwa dimana seorang wanita tidak mampu membayar surat yang diantar padanya, sejak saat itulah untuk menghindari kasus yang sama, maka dibuatlah perangko, sebagai alat pembayaran pengiriman surat. Banyak sekali jenis perangko yang dipajang di vitrin-vitrin atau lemari kayu kaca yang ditarik. Perangko-perangko ini kebanyakan berasal dari Belanda. Salah satunya adalah perangko Raja Carol, yang dibuat untuk mengenang wafatnya Raja Carol Ipada tahun 1859.

 Perangko Carol
Selain koleksi perangko, di museum ini juga terdapat koleksi naskah serta surat-surat yang terbuat dari emas. Naskah kuno serta surat-surat ini berasal dari jaman kerajaan majapahit, mriwijaya hingga jaman kolonial. Hanya saja semua naskah serta surat yang ada berupa replika, karena naskah yang asli sudah tidak mungkin dipamerkan kepada umum. Di bawah ini beberapa gambar naskah serta surat-surat emas yang sempat saya abadikan.

Naskah emas dari Gowa kuno
Naskah Kuno Jawa Bergambar Wayang
Naskah Jawa Kuno
Naskah kuno bertuliskan huruf arab
Salah satu surat yang terbuat dari semacam kayu atau daun lontar bertuliskan emas
Nakah Bali dengan gambar yang dilukis di atas kayu
Masih Naskah Kuno.....
Naskah dengan gambar yang berwarna-warni
Naskah Batak
Naskah yang terakhir berasal dari batak, sehingga disebut naskah batak atau putaha. Naskah ini berisi tentang sesuatu hal yang gaib dan masa depan. Pustaha ini ditulis dengan huruf yang berasal dari India di atas kulit kayu pohon alim, kemudian di pukul-pukul dan dilipat-lipat menjadi seperti akordeon. Pustaha ini ditulis oleh para cantrik atau seorang datu/dukun. Fungsinya sebagai sarana pengingat nasehat serta ucapan lisan sang guru. Isi dari pustaha ini dapat digolongkan ke dalam ilmu dukun (obat-obatan, jimat, guna-guna), dan ilmu hitam (ramalan masa depan). Jangan salah, naskah batak ini sudah sering diteliti oleh para ilmuwan Eropa, karena bentuknya yang aneh dan eksotis, dan pengetahuan mengenai naskah batak ini sudah tersebar di seluruh perpustakaan Inggris. Bentuk gambar binatang atau mahluk seperti dalam naskah kuno batak, juga akan kita temui di beberapa patung masyarakat pra modern Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Insya Allah akan penulis rangkum dalam tulisan berikutnya ya, sekaligus menceritakan bagaimana liburan kemarin saat berkunjung ke Museum Nasional di Jakarta.

Dari naskah-naskah kuno ini, dapat kita simpulkan, ternyata  tersimpan berjuta warisan budaya, bahasa, tulisan, serta sejarah bangsa yang tidak akan pernah habis dibahas atau pun dimakan usia, dan museum adalah saksi sejarah sekaligus saksi bisu atas pengetahuan-pengetahuan ini. Museum selain sebagai tempat rekreasi bagi yang menyukainya, juga bisa menjadi tempat pembelajaran bagi diri kita sendiri, tapi kalau mau belajar dari museum, memang tidak cukup sekali mendatangi museum tersebut, hehehe.
Dengan koleksi perangko sejumlah 50 ribu lembar yang dikumpulkan dari 178 Negara, sangat cocok bagi mereka pencinta perangko atau kaum filatelis. So, sekali-kali jika kalian sedang berada di Bandung, datangilah Gedung Sate dan Museum Pos Indonesia, yang terletak di tengah-tengah kota bersebrangan dengan lapangan Gasibu. Museum ini buka setiap hari, Senin-Minggu dari pukul 09.00-16.00 WIB. Tidak perlu khawatir karena untuk memasuki museum ini sama sekali tidak dipungut biaya alias Free (Gratis). Setelah mengunjungi Museum, kalian bisa langsung berwisata kuliner yang terdapat di sekitar Gedung Sate dan Gasibu, mampir saja di Nasi Bakar Gasibu atau Yoghurtnya, perjalanan akan terasa lebih mantaap. ^^

Oke, selamat berlibur dan selalu mawas diri yaa..... :)

With Love...
Ghie....

Comments

suratexpress9 said…
Salam,

Kini terdapat cara yang mudah menguruskan surat yang banyak dengan penggunaan Sistem Pengurusan Surat