Skip to main content

Jalan Pulang...




Chaos...untidy room, mind, and soul....

haa betapa bosannya hari ini, tanpa dilalui sesuatu yang berarti. Pernahkah kalian merasa bosan, malas melakukan sesuatunya, dan rencana-rencana kehidupan yang telah kau susun kini seperti "telanjang" dan "terdampar" di sudut ruang tak tentu. 

Setelah galau, akan kutuliskan apa lagi ya...

Siluet @@@@@@@.......

Sang Galau memang sudah pergi, baru kemarin saja ia pamit dan memberikan cenderamata. Namun aku belum membuka semuanya, ada dua bingkisan yang ia berikan, satu bingkisan berwarna hitam dan satunya berwarna merah. Bingkisan pertama, berwarna hitam, sudah kubuka, dan isinya sebuah boneka yang bernama "death". Boneka "Death" ini begitu malang, di tubuhnya terdapat beberapa bekas jahitan yang tidak rapih, dan ia tampak sendu, seperti telah ditinggalkan begitu lama oleh sang empunya. Namun, meskipun boneka pemberian itu bernama "Death", ada sesuatu "kerinduan" di matanya, yang membuatku terdesir untuk mengajaknya tidur di malam hari ataupun sekedar melepaskan kekosongan dengan bermain, memasak, menggambar, dan mendesain bersamanya. Hingga kami berdua berhasil membuat "kue tart" berlapis berbentuk hati, terdiri dari lapisan cokelat rasa "kesadaran", lapisan bluebeery rasa "kepedulian", lapisan strawberry rasa "kesabaran" dan taburan keju serta buah chery di atasnya yang memberikan rasa "kasih sayang dan arti silaturahmi".  
Boneka "Death" ternyata bukan semata-mata boneka, sejatinya ia adalah seorang sahabat, yang jika melihat wajah serta senyum "hitam"nya, mengingatkan kita pada kalimat "jangan sampai terlambat dan menyesal". Sehari bersamanya membuat kaki-kaki ku beranjak dari sandaran kursi "lamban" dan bantal "kemalasan". 

I knew that from the way you moved your hands...

Meskipun sang Galau sudah menyampaikan salam pamitnya, namun ternyata ia tetap mengawasi ku dari jauh, boneka itu ia berikan untuk membuat kepalaku gelisah dan cemas. Rupanya sang Galau belum berhasil membuatku tersudut kaku dan membeku, dan karena itulah, ia sudah menyiapkan senjata berikutnya, and I know, senjata itu sudah ia persiapkan dalam bingkisan yang berwarna "merah". 

Aku memang belum membukanya, tapi aku hanya mengintipnya sedikit. Aha, belum juga ku buka semua kertas yang membungkusnya, aku sudah bisa mencium baunya dari jauh, gila, betapa sang Galau begitu tau kelemahanku. Mungkin boneka "death" tidak terlalu membuatku bergeming, tapi yang satu ini, yaa yang satu ini benar-benar bisa membuat otakku tak waras. 

Box berwarna merah itu, mengepulkan asap abu-abu yang menyesakkan ruang di sekitar tenggorokkan serta nadiku. Semakin lama, asap abu-abu  itu semakin mengeluarkan baunya yang selama ini selalu membuatku "muntah", bahkan aku harus menjalani terapi akut yang sama gilanya dengan "bau" itu. 
Ya, bau itu bau yang pernah aku kenal sebelumnya, bau yang pernah memporak-porandakan seluruh rumah semangatku, rumah kepedulianku,  dan bahkan rumah kehidupanku.  Bau itu seperti racun yang dapat meremukkan dan mematahkan seluruh tulang, sebelum akhirnya kematian mencabut seluruh jiwamu. Bahkan, bau itu lebih berbahaya dibandingkan dengan kematian itu sendiri, jika kau tak bisa melepaskan bau itu dari tubuh dan jiwamu, sebelum kau mati, maka tinggal tunggu saja kehancuranmu. 

Aku tak berani membukanya lebih lebar lagi, tidak, aku sudah tau apa yang akan terjadi jika kubuka box itu, sedikit lagi saja, maka aku akan bertemu dengan malaikat penjaga. Malaikat penjaga yang siap membawaku ke tempat yang paling menakutkan di bumi ini. Tempat itu siap melahapmu, membakar setiap inci dari kulitmu dan menjadikannya daging "gosong". Bahkan sebelum aku membuka box itu, hatiku rasanya sudah mulai terbakar. 
Box itu tak bergeming, ia hanya mengulurkan tangan "berancunnya" padaku, dan sang Galau, di suatu tempat yang entah dimana, mulai menyunggingkan senyum "kemenangannya"nya. 


"Tidak, aku tak boleh seperti ini, aku harus bisa melawannya, cahaya, kemana cahaya itu?". Nampaknya satu cahaya matahari tak sanggup memberiku tameng perlawanan yang kuat. Aku harus mencari tameng lainnya, sebelum bau itu benar-benar menghancurkan "puing-puing" kehidupan yang baru saja aku susun. "Kalaupun aku harus mati, bau itu sedikit pun tidak boleh menyentuh bulu kulitku!!!". 

Silueet,,,, @@@@@@@@

1000 mil dari tempat kediamanku, di sebuah surau sederhana, yang dindingnya hanya terbuat dari rotan bambu, melambungkan suatu puji-pujian yang digemari dan liriknya sungguh membuat hati ini damai tentram. Orang-orang yang tinggal di sekitar surau itu pun, ikut lirih dalam suka cita, kebahagiaan dan ketentraman yang mungkin tak bisa dimengerti oleh "jiwa-jiwa dogma-materialistis" seperti diriku. Suatu kali, aku pernah bertemu dengan kakek tua penghuni surau itu, ia pernah memberikanku salah satu bait syair favoritnya...
"Demi Matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta penegakannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya"**. 
Bait syair ini mengalun dengan indahnya dari mulut sang kakek tua, dengan matanya yang tajam dan senyumnya yang hangat. Ada satu kesederhanaan yang terpancar dari auranya, ya kesederhanaan yang belum bisa aku pahami, namun ingin sekali aku raih dan memeluknya dalam-dalam. Nyaman sekali berlama-lama di sana, teduh, tenang, dan tersimpan berjuta rahasia seperti harta karun misteri yang menularkan keajaiban. 

"Jangan kau persempit hatimu, seekor tikus saja bisa menjadi masalah apabila ia berada di kamar yang kecil, tapi seekor gajah, tak berarti apa-apa jika ia berada di suatu lapangan yang besar, pikiran dan hatimu menjadi kacau, karena kutu-kutu masalah itu kau tempatkan di ruang hatimu yang sangat sempit, nak"***

Hati yang sempit, apa maksudnya, bagaimana hatiku bisa bertambah sempit, bagaimana caranya agar hatiku bisa "melapang" seperti itu...."Tak perlu takut nak, orang-orang yang selalu ingin dekat denganNya, dengan Sang Maha Cahaya dan Maha Suci, akan selalu mendapati jalan yang tak selamanya aman, dan ujian akan terus menggoda hatimu, kuatkanlah nak, berdiri tegak dan bangkitlah, tak apa jika kau merasa cemas dan gelisah, itu adalah pintu menuju cahayaNya, tembuslah, berjalanlah terus, jangan menoleh kemanapun, ikuti suara cahaya dalam hatimu...sekarang saatnya kau pulang, kau tak bisa berlama-lama ada di sini, pulanglah nak, pulanglah". Kakek tua itu menepuk pundakku dengan tangannya yang hampir mengkerut, lalu ia membalikkan tubuhnya dan berjalan tergopoh-gopoh, ditemani tongkat tuanya yang wangi kayu cendana. Aku pun berbalik arah, tanpa melihat kakek tua itu lagi, alas, kemana aku harus pulang. Rupanya aku telah lupa jalan pulang....

 Hitam, gelap, tiba-tiba mataku tak bisa melihat apapun, "aaaah, kenapa jadi begini, di mana aku?, kakek, kakek, di mana dirimu, tolong aku, aku tak bisa melihat.." Aku hanya membukakan mulutku, tapi tak muncul satu suara pun, aku mencoba untuk teriak, tapi tak bisa, aku tidak mendengar apapun dari mulutku. Aku berusaha membatuk-batukkan tenggorokannku, mungkin saja ada lendir yang menganggu suaraku, tapi tetap saja, suara batuk itu tak terdengar. Oh Tuhan apa yang terjadi pada diriku, gelap dan tanpa suara, aku hanya bisa berbicara dengan hatiku sendiri, apa aku jadi buta, apa aku jadi bisu?...

Tidaaaakkkkk. Suara hatiku berteriak, sekuat-kuatnya hingga tubuhku bergoncang, aku tak bisa melihat atau berkata apapun. Dan air mata pun mengalir deras, bak air hujan mengguyur wajahku, di sana di kegelapan itu, aku sendiri, yang terdengar hanya hawa sendu dari air mata seorang gadis yang tak tau jalan pulang. 

@@@@@@

"Dengarkan kata hatimu nak, ikuti CahayaNya, dengarkan dan ikutilah". "Kakek, itu suara sang kakek tua, kakek, dimana dirimu, aku takut, apa yang harus kulakukan?". Kebisuan telah mengambil suaraku, aku tak bisa mengungkapkan kata-kata tolong atau pun bertanya, aku tidak tau dimana kakek tua itu, tapi aku bisa mendengarnya, aku hanya mengucapnya dalam hati. 
Suara kakek itu, semakin jelas terdengar di telingaku, namun aku tak bisa melihat apapun. Tiba-tiba aku mengenali sebuah sentuhan, ya sentuhan sang tangan yang mulai mengkerut. Tangan itu menyapa wajahku, dan menghapus butiran air yang aku rasakan pada pipi basahku. Aku merasakan tubuhku diangkatnya, aku berdiri, lalu, tangan itu menarik tanganku untuk berjalan mengikutinya. Kurasakan kakiku mulai melangkah,  namun aku tak tau pasti siapa yang menuntunku saat ini, apakah betul kakek tua itu, ahh aku tidak tahu, andaikan aku bisa melihatnya. Tangan itu terus menuntun dan menggerakkanku, aku hanya bisa merasakan semak-semak belukar yang sesekali menyentuh kulit kakiku, dan hawa dingin yang menyelimuti seluruh tubuhku. 

Tangan itu terus menarikku, hingga kami berhenti di suatu titik, dimana hanya terdengar suara air deras yang mengalir riak dekat sekali dengan keberadaan kami. Aku mencoba untuk menyentuh tangan itu, tapi sebelum aku sempat menyentuhnya, ia sudah melepaskan pegangan tangannya. "Di sini, sampai di sini aku menemanimu, selanjutnya lanjutkan perjalananmu sendiri, yang harus kau lakukan hanya mendengarkan, dengarkan suara Cahaya yang menuntunmu, dan ikutilah suara dalam hatimu, jangan terkecoh dengan bebauan apapun, selamat menikmati perjalanan anakku, sampai ketemu lagi". Suara kakek itu menghilang di telan kesunyian, "Kakek, itu memang benar sang kakek tua, kakek jangan pergi dulu, kenapa suaraku hilang dan mataku tak bisa melihat, kakek, tolong, temani aku sebentar saja, kakek". Sia-sia saja aku berucap seperti itu, ia tak akan bisa mendengar ucapan dari mulut yang hanya bisa komat kamit, tanpa suara yang jelas. 

Aku memukul-mukulkan dadaku, marah seperti orang gila, "Hey suara, kenapa kau tak bisa keluar di saat-saat genting seperti ini, dan kau juga mata, tak bisakah kau terbuka dan memberikan aku satu cahaya, satu jalan keluar saja, heeuu sialan, aku tak mau tersesat dan berada di sini selamanya, aku mau pulaaaangg". "TENANG!!"...tiba-tiba terdengar satu suara yang menggema dan memecahkan hawa dingin menjadi panas, "darimana datangnya suara itu, siapa yang menyuruhku untuk tenang, siapa kau, apa kau tak melihat kesulitanku". "TENANG!!! kau tak akan bisa pulang, jika kau masih berbicara seperti itu!!". Siapa sebenarnya suara itu, darimana datangnya, apakah kakek tua itu kembali, tidak, itu bukan suara kakek tua yang aku kenal, lalu suara siapa itu?... 
"Kami adalah suara dan penglihatannmu, kami adalah mata dan mulutmu". "Apa?? jangan banyak omong kosong, tidak, mana mungkin mata dan mulutku bisa bersuara, sedangkan aku ada sini, terkunci dalam kebisuan dan kegelapan, kegilaan macam apa lagi ini".  "Ini bukan kegilaan, tapi kami memang adalah mata dan mulutmu yang kau pinjam bertahun-tahun, tapi kau tidak memelihara kami dengan baik, kau menyiksa kami, kau menjadikan kami budak pemenuh nafsu mu, kau kotori kami dengan lontaran dan ucapan-ucapan busuk yang keluar dari dirimu sendiri, kau juga nodai kami dengan gambaran kehidupan yang buruk dalam otakmu!". Nafasku terengah-engah mendengar suara itu, rasanya aneh berbicara dengan mulut dan mataku sendiri, bagaimana bisa mereka berkata seperti itu dan memprotes diriku, tubuhku bergetar, ada rasa takut dan menyesal membuncah dalam dada. "Bagaimana kalian bisa mendengar suara yang aku lontarkan dalam hatiku sedangkan mulutku terkunci, kk kkk aliann bagaimana bisa ada di sana?". "Karena Sang Cahaya, Sang Cahayalah yang menyuruh kami untuk meninggalkan dirimu". " Sang Cahaya?, Dia yang menyuruhmu?, kenapa, kenapa dia menyuruh kalian untuk pergi?, apa yang harus kulakukan, agar kalian kembali pada diriku?". "Dia ingin kau lebih mendengarNya, Dia melepas penglihatanmu, agar kau bisa melihat dengan batinmu, Dia juga melepas suaramu agar kau berpikir dan bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi bisu saat kau membutuhkannya, hingga kau bisa lebih menghargai setiap kata yang keluar dari mulutmu, Dia tak ingin kau terbelenggu oleh kata-katamu sendiri, Dia ingin kau pulang". "Benarkah?, lalu apa yang harus aku lakukan untuk bisa pulang?, aku juga ingin pulang". " Itu tak mudah, kau harus tenang, dan seperti yang kakek tua katakan padamu, kau harus mendengarkan suara Sang Cahaya dalam hatimu, jangan terkecoh oleh apapun, tapi maaf kami harus pergi, kami tak bisa menemanimu di sini". "Tunggu, apa kalian akan kembali pada diriku?", "It's depend on you, selamat jalan". Mereka pun menghilang. Aku tak mendengar suara mereka lagi. 

Mulut dan mataku, aku sedang menyentuhnya sekarang, ternyata apa yang aku sentuh, hanyalah fisik semata, mereka tak berarti apa-apa tanpa Sang Cahaya yang mengembalikan suara dan penglihatan kepadaku. Oh, betapa bodohnya aku, kenapa aku berbuat seperti itu pada mereka, kenapa tak pernah sedikitpun aku memikirkannya. Bagaimana jika Sang Cahaya juga ingin mengambil tangan dan kakiku, aku mungkin tak bisa berjalan dan tak bisa menyentuh wajahku lagi, atau bagaimana jika Sang Cahaya ingin jantungku, aku pasti sudah mati. Baiklah, aku akan tenang, aku akan cari dimana suara Sang Cahaya itu, akan aku dengarkan dengan baik-baik, semoga suara itu datang dengan cepat. 

Kakiku terasa sangat pegal sekali, sudah berapa jam aku berdiri, aku hentakkan kakiku, dan baru tersadar, ternyata yang aku injak sepertinya bukan tanah, lalu aku berusaha membungkukkan tubuhku untuk menyentuh permukaan tempat aku berdiri, ya ini bukan tanah, tapi sesuatu yang keras dan agak licin, seperti sebuah batu besar. Aku sedang berdiri diantara bebatuan besar, entah apa yang ada di sampingku, tapi aku mendengar suara air, seperti air terjun yang sangat deras, ku sentuh kembali pijakan kakiku, betul, ada air di permukaannya. Jika tak hati-hati, aku bisa saja tergelincir, aku harus waspada, mendengar dan mengendus setiap hawa yang bisa berubah dari waktu ke waktu. Aku berusaha untuk duduk dan menggapai permukaan batu dengan tanganku, aku duduk dengan sangat hati-hati. Tak lama kemudian, aku mendengar suara dari permukaan air di sebelah ku, suara itu sanyup-sanyup terdengar, seperti lantunan nyanyian para dewi, "if you can see it with your heart, just come and see me, under the light, under the water".. Lantunan lagu itu, seperti mengajakku untuk terjun ke air, aah, tidak, aku tidak boleh gegabah, mungkin itu bukan suara Sang Cahaya, lebih baik aku diam saja dulu di sini. "come and see us in the water, then you will see the light, come if you see it between your trust".. Nampaknya itu bukan sekedar suara, ada sesuatu yang meliuk-liuk di permukaan air, suara yang melompat-lompat, masuk dan keluar dari permukaan, seperti ikan lumba-lumba yang meloncat ke udara, dan kemudian masuk lagi ke dalam air. Bulu kudukku langsung berdiri, mengira-ngira apakah itu hanya suara ataukah sebuah mahluk...Nyanyian itu seperti nyanyian seorang wanita, ahh aku mulai takut, badanku pun bergeser secepat kilat menjauhi suara, menjauhi air. Namun, suara itu tetap melantunkan nyanyiannya, 

if you can see with your heart, just come and see me 
under the light, under the water, 
come and see us in the water, then you will see the light,
come if you see it between your trust. 
Nothing to be scare, just believe in us, 
come to see us under the water. 
 Then, you'll find your way home...
if you can see with your heart, just come and see me, 
under the light, under the water...

Nyanyian itu berhenti, liukan dan suara di permukaan air pun tak terdengar lagi. Apakah dia sudah pergi, I hope so. Bulu kudukku masih berdiri, khawatir akan kemunculannya lagi. Sambil memegang tanganku erat, aku bersiap-siap, menyiapkan langkah kaki seribu, jika tiba-tiba ada mahluk aneh muncul di hadapanku. Aku harus fokus, dimana suara cahaya itu, dimana. 

Tidak jauh dari tempatku berada, aku mendengar suara langkah kaki, satu, dua, tiga, ah rupanya bukan langkah kaki seseorang tapi banyak orang, aku juga mendengar suara musik, seperti lagu-lagu barat yang sering aku dengar dari kamar adikku. Ramai sekali, seperti ada pesta, aku mendengar mereka tertawa satu sama lain, berbincang, dan suara gelas beradu, hummm wangi apa ini, wanginya mengingatkan aku pada masakan ibu, kentang goreng dan ayam tepung yang diberi bumbu lada hitam, humm lezatnya, dan satu lagi, aku mencium wangi bumbu merah yang berpadu dengan kentang, ah sambel goreng kentang kesukaanku. Perutku keroncongan, nampaknya aku lapar. Aku ingin kesana, sedikit menghangatkan tubuh tidak apa-apa kan, siapa tau orang-orang itu tau jalan keluar dari tempat ini. Yah, aku akan menghampiri mereka. Aku berusaha bangkit, sambil menyentuh kedua kakiku, aku ikuti sumber wangi makanan itu, aku betul-betul sudah lapar. 

Saat aku berusaha melangkahkan kakiku ke arah orang-orang itu, tiba-tiba saja, aku mendengar suara "CRAK CRAK CRAK". Seperti suara patahan, lama-lama semakin kencang, dan tempat itu bergetar. Aku berusaha menyeimbangkan tubuhku, tapi getaran itu semakin berputar, dan  mengeluarkan suara gemuruh yang keras, seperti gempa besar menimpaku. Batu-batu yang aku pijaki, saling beradu, dan mengeluarkan bunyi patahan yang semakin keras "BRKK BRRK BRRK CCRRKK CRRK". "Ah aku akan jatuh, tolong, aku akan jatuh, whos gonna help me?".  "Diam di tempat, kau tak boleh pergi ke mana-mana, aku sudah menyuruhmu untuk datang kepada kami".  Suara itu, adalah suara wanita yang menyanyikan nyanyian tadi. Aku tak bisa melihat apapun, tapi aku bisa merasakan suara itu keluar dari geretakan gigi yang menakutkan, aku menelan ludah, posisiku saat ini betul-betul memaksaku untuk mendengar suara itu, dan membiarkannya mendekatiku. Aku hanya bisa pasrah dan menunggu sampai mahluk itu mendekap dan menarikku, ya, ia menarikku ke dalam air, seketika aku merasakan tubuhku melayang di udara, seperti seseorang yang terjatuh dari ketinggian 10 meter, lama sekali tubuhku berada di udara, sedangkan jauh di sana, aku mendengar bongkahan batu yang berguncang, seperti gunung merapi yang meletus. Haa, kenapa tadi aku tidak berlari kencang saja, sekarang tubuhku ada di genggaman mahluk ini, aku hanya bisa merasakan kepalaku menyentuh dadanya, dan  rambutnya yang menyentuh permukaan kulit wajahku. Lalu kami jatuh terjerembab ke dalam air, badanku sakit dan seketika air menyelimuti seluruh tubuh kami.

 Aku berusaha untuk bernapas, aku ingat-ingat bagaimana caranya bernapas dalam air, seperti saat pelajaran diving di sekolahku. Mahluk ini yang entah apa namanya, rupanya dia tak kesulitan untuk bernapas dalam air. Aku  menggerakkan kakiku, tapi ada yang aneh, mahluk yang mendekapku ini, sepertinya tidak punya kaki seperti kaki manusia. Aku merabanya sedikit lewat kakiku, dan ya, tidak salah lagi, permukaan kakinya licin, dan bersirip, lebih seperti ekor dibandingkan sebuah kaki. Haaa, apakah dia....ahahaha, tidak mungkin, aku pasti bermimpi, keberadaan mahluk seperti itu hanyalah mitos dan cerita pengantar tidur anak-anak saja, tak mungkin jika putri duyung yang sedang mendekapku saat ini. Tapi, kemudian aku ingat Sang Cahaya, jika Ia bisa mengambil penglihatan dan suaraku, maka, bukan hal yang mustahil, Dia bisa menciptakan mahluk seperti ini. Betulkah ia yang bisa menghantarkanku menuju cahaya, ini aneh, benar-benar aneh, sesuatu hal yang mustahil, tapi, bagaimana bisa terjadi. 

Mahluk ini terus membawaku, kekedalaman yang lebih jauh lagi, yang aku lakukan hanyalah berusaha untuk terus bernapas, hingga kami berhenti, dan dia membisikkan sesuatu kepadaku "Pergilah, cahaya sudah menunggumu". Tubuhku berpisah dengannya, aku merasakan dia melepaskan dekapannya, keadaanku masih gelap, aku tetap memajamkan mataku, dan berharap cahaya itu akan muncul. 

Kurasakan tubuhku mulai menghangat, aku mengapung di dalam air, aku telentang dan aku pasrah, sambil terus mengeluarkan gelembung udara, memberikan ruang pada paru-paruku untuk tetap bernapas. Kehangatan itu terus aku rasakan, semakin lama semakin hangat, dan aku merasakan cahaya merasuk kulitku, wajahku, kaki dan tangan ku, seluruh tubuhku. Tubuhku mulai terangkat, ya aku merasakan tubuhku bergerak sendiri dalam air, aku seperti menari, gelembung cahaya itu terus mengelilingi tubuhku, aku menari bersama cahaya di bawah air. 

Tiba-tiba ada kelembutan yang menyentuh tanganku, dan menarik tubuhku ke atas permukaan air, terus menuju ke atas. Saat kepalaku menyentuh permukaan, aku sudah bisa merasakan udara yang hangat di luar sana, haaa akhirnya aku bisa keluar, aku bisa keluar ke permukaan air, dan aku membukakan mata, sedikit demi sedikit aku merasakan sinar terang menyentuh mataku, dan yaahh aku bisa melihat, aku melihat sinar itu, sinar terang matahari yang menyentuh wajahku, terima kasih Tuhan, aku menemukan cahayamu di sini. Sinar itu melihatku, tersenyum pada ku, tapi sungguh menyilaukan, hingga mataku tak kuasa melihatnya. "Ah, kenapa ini begitu silau, terlalu silau bagiku, ah, jangan aku tak mau buta lagi, save me, selamatkan aku, Tuhan"....

@@@@@@@

Aku terbangun, ku rasakan nafasku terengah-engah, ku sentuh wajah dengan tanganku, hoo, apakah aku bermimpi, aku masih bisa melihat, dan yaa, suaraku kembali, ahaha, suaraku kembali...Aku bangkit dari lantai, rupanya tadi aku terjatuh, humm, terjatuh atau tepatnya pingsan. Namun, aku masih ingat kakek tua,  suara mulut dan penglihatanku, mahluk yang membawaku ke air, runtuhnya batu, serta wangi makanan yang membuat ku lapar,aku masih ingat semuanya, semuanya nyata bukan...?  
Ya, semua itu nyata, karena kini di hadapanku, sebuah box merah yang mengepulkan asap abu-abu, menyodorkan tangannya padaku. 

"Tidak, aku tidak mau bersalaman denganmu!". Box merah itu semakin mendekat, aku tau apa yang dia mau,  dia ingin aku berucap kasar padanya, dia ingin aku mengutuknya, tidak, aku tidak akan terjerat dengan tipu dayamu lagi. Aku tak mau kehilangan suara dan mataku lagi. Saat itu, aku teringat  suara sang kakek "jangan kau sempitkan hatimu, nak, lapangkanlah, lapangkan, mereka hanyalah kutu-kutu kecil yang tidak akan menjadi masalah jika hatimu luas seperti samudera"....aku terdiam, mencoba untuk menyatukan semuanya, perjalanan ini pasti menuju satu hal, tentang apa yang harus aku lakukan terhadap box yang berada di hadapanku ini.
 " Lapangkan hati, kuatkan hati, aku harus bisa menahannya, Dengan Nama Tuhanku, Atas Nama Sang Cahayaku, aku akan membukamu, box merah!!".  Lalu, aku buka box itu perlahan,   bau itu semakin mencekam, mendesak hidungku agar ia bisa dihisap olehnya, tapi aku harus kuat, aku harus bisa menahan, jangan sampai asap itu menyentuh sedikitpun bulu kulitku. Kubuka dan ku keluarkan isinya, aku langsung menutup mulut dan hidungku dengan tanganku. Isinya adalah sebuah kantong hitam dari kain yang sudah kucel, kotor, dan menjijikkan. Kau ingin tau apa nama kantong itu, kantong menjijikkan itu adalah kantong yang "memakan sendiri daging saudaranya dengan kecemburuan, kemarahan,  kebencian, keegoisan, dendam, dan penghianatan".  Yah, kantong menjijikkan yang seharusnya tidak lagi hadir di hadapanku, aku sudah muak dengan dirimu, menghilanglah, kau sudah mencabik-cabik dan membakar hatiku, membakar seluruh hidupku. Aku menangis, menangis sejadinya-jadinya di hadapan kantong busuk menjijikkan itu, aku memohon ia pergi, dan kembali seperti kantong semula, yang memancarkan kebahagiaan, kebersamaan dan saling memaafkan. "Aku mohon, pergilah, aku ikhlas, jangan ganggu hidupku lagi dengan bau-baumu yang menyesakkan dada dan mengaburkan tujuan hidupku, aku mohon, pergilah". Bau itu semakin mendekati hidung dan kulitku, aku terus memohon dan pasrah, tiba-tiba saja, saat air mataku menyentuh kantong itu, "Pssshhhhhh"....aku mendengar suara seperti ban pecah dari dalam kantong, tiba-tiba saja asap abu-abu yang menyembul, tak nampak lagi, menghilang seperti gelembung di udara. Aku menghela nafas, keringat dari wajahku mulai bercucuran, dan aku menaruh kantong itu, yang kini sudah berubah menjadi kantong bersih seperti semula, tanpa bau sekalipun. "Semoga kau tak pernah kembali..."

Sayup-sayup dikejauhan sana, aku mendengar sebuah nyanyian, nyayian sang kakek tua, yang mengingatkan aku pada malam-malam kesendirianku, saat mata dan mulutku benar-benar terkunci....

La ilaha illa Allah
La ilaha illa Allah

Malam khusuk menelan tahajjudku
Lidah halilintar menjilat batinku
Mentari dan cakrawala kenyataan hidup
Hanya padaMulah kekuasaan kekal

Ingatlah Allah yang menciptakan
Allah tempatku berpegang dan bertawakal
Allah maha tinggi dan maha esa
Allah maha lembut

Lindungilah dari ganas dan serakah
Lindungilah aku dari setan kehidupan
Berikan mentariMu sinar takwa
Ya ampunilah dosa

Gerhana matahari kuasaMu
Bumi langit manusia ciptaanMu
Hari kiamat ada di tanganMu
Aku bersujud****



Kakek tua itu pun kembali ke suraunya, sambil terus menyenandungkan lagu kesukaannya. Dan sang Galau, ia sedikit geram dengan apa yang terjadi, namun ia memberikan senyum sinisnya, dan berjanji pada hatinya, "aku akan kembali, dengan rencana yang lebih besar, tunggu saja!!!'....

Kini, aku hanya tertunduk, melepaskan semuanya, mencoba memberi arti pada semua yang hadir dalam kehidupanku, aku hanya ingin kembali pulang, menatap semuanya dari arah yang berbeda. Tak cukup bagiku satu matahari untuk melepas semuanya, namun aku butuh lima matahari. Engkau adalah Sang Maha Cahaya dan buku yang mulia, Al Quranul Karim. Kini ku tau, ternyata buku-buku inilah yang selalu bisa mengingatkanku pada jalan pulang,,,








Seandainya kamu faham ucapanku niscaya kamu akan memaafkanku
Atau aku mengetahui ucapanmu maka aku mengkritikmu
Tetapi engkau tidak faham ucapanku sehingga mencelaku
Dan aku tahu bahwa kamu tidak faham maka aku memaafkanmu


(Syair Arab)



** Surat Al-Syams (1-10)
*** Inspirasi by Rangga Umara
**** Kantata Taqwa-Iwan Fa


Comments