Skip to main content

Movie, Movie, Movie

Movie...movie, do you like movie....? yes so do I, I love it very much....but, btw, what movie do you like most..? ummm, there's a quote like this "apa yang kamu baca, tonton, lihat dan dengar adalah apa yang membentuk jati dirimu"..really??

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan Bapak Chand Parwez Servia, Direktur utama PT Kharisma Starvision Plus, yang telah menelurkan banyak sekali judul film di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah, "Hapalan surat Delisa", "Kabayan jadi Milyuner", "Wanita berkalung sorban", "Get Married", dan masih banyak lagi. Tentunya kalian tau khan film-film tersebut. Sebenarnya saya termasuk orang yang jaraaaaang sekali menonton film buatan Indonesia, karena dalam persepsi saya film Indonesia masih banyak yang hanya mengandalkan 3P, Perut, Paha, dan Perempuan, ahahaha. Makanya, ogah-ogahan kalau diajak teman untuk menonton film Indonesia, kecualii sebelumnya saya baca dulu sinopsisnya dan ceritanya bagus, menarik serta jauh dari unsur 3P, mari kita tonton, hehehe.
Dari sekian banyak film Indonesia yang mengudara, saya paling menyukai  film "Get Married", "Hapalan surat Delisa" dan "Laskar Pelangi". Menurut saya film-film seperti itulah yang memang pantas untuk ditonton dan syarat pesan moral yang baik.  Dari hasil Talkshow Perfileman Edukasi bersama Pak Chand, saya menemukan wawasan baru, bahwa ternyata Film yang berbasis pendidikan dan budaya, sangat dinanti-nanti saat ini oleh masyarakat. Bagaimana suatu film dapat menggambarkan karakter suatu masyarakat dan bangsa, dibahas dalam pertemuan kita yang singkat itu, beberpa poin penting diantaranya:
  • Bahwa perfileman merupakan suatu media audio visual yang memiliki daya tariknya tersendiri serta memiliki pengaruh yang sangat straregis untuk memadukan, menggambarkan dan mentransfer berbagai budaya maupun kebiasaan sehari-hari masyarakat, serta film dapat menyampaikan pesan-pesan yang dikemas sedemikian rupa berdasarkan kemajuan teknologi yang berkembang di negara tersebut. Artinya bahwa dari film kita juga bisa melihat bagaimana perkembangan teknologi yang sudah digarap di suatu negara. Menurut Pak Chand, yang masih belum dipahami oleh banyak produsen perfileman di negara ini adalah bahwa sesungguhnya film juga berfungsi sebagai duta dalam pergaulan antarbangsa, sehingga sudah selayaknya lah perfileman Indonesia, dibangun berdasarkan budaya ataupun pesan karakter yang ingin disampaikannya di mata dunia.
  • Film berbasis edukasi dan budaya ini juga disebutkan dalam UU No 33 Tahun 2009, bahwa perfileman merupakan produk budaya kreatif, sehingga pemerintah menaungi dunia perfileman ini di bawah Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sedangkan untuk menangani konten isi film itu sendiri, pemerintah menaunginya di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  • Pak Chand juga memberikan gambarannya mengenai perkembangan film di negara ini, diantaranya ada dua pendekatan film menurut Pak Chand, yaitu:
  1. Film Main Stream :  Film yang dibuat mengikuti selera dan permintaan pasar/konsumen saja, dibuat dengan sederhana dan dengan biaya yang sangat rendah (dibawah 2 milyar), dan pesan atau isi filem yang ingin disampaikan cenderung bersifat menakutkan (film horror), berbau sensualitas atau kombinasi dari keduanya. 
  2. Film Side Stream: Film yang memiliki identitasnya sendiri dan memang dibuat untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu melalui pendekatan film dari banyak hal, diantaranya lewat, komedi, drama dan kemanusiaan. Pembuatannya dengan harga standar (2,5 s/d 6 milyar rupiah) atau dengan harga ideal yaitu di atas 7 milyar rupiah.
  •   Sayangnya di Indonesia, menurut Pak Chand, film-film yang beredar masih film-film yang berselera rendah, dan anehnya film-film seperti itu yang justru lebih banyak ditonton masyarakat kita, sehingga keberadaan film itu merusak citra film-film baik yang bermuatan pendidikan dan kebudayaan. Film-film yang lebih mengumbarkan 3P juga membuat persepsi masyarakat tidak bisa membedakan antara "populer" dan "terkenal". Pak Chand juga menambahkan jika ingin melihat karut marut negara kita tinggal lihat saja dari filmnya yang semakin hari menjadi semakin horor. 
  • Apresiasi terhadap film dan terhadap penontonnya seharusnya dapat difasilitasi dengan baik oleh pemerintah. Penghargaan terhadap pembuatan film-film yang tidak hanya berorientasi "profit" tapi juga film yang "ideal" yang berbiaya tinggi dan bermuatan positif merupakan salah satu apresiasi yang dapat dilakukan pemerintah terhadap "dunia perfileman nasional" saat ini. Semakin hari masyarakat pun semakin dapat menilai film mana yang memang pantas untuk ditonton bersama-sama dengan keluarganya. Selain itu, melalui pendidikan apresiasi terhadap film dapat dilakukan dengan mendukung kegiatan ekstrakurikuler baik itu yang diselenggarakan di SD maupun hingga PT, pengadaan sekolah-sekolah pendidikan kreatif di bidang audio visual dan lain sebagainya, tentunya dapat menjaga apresiasi dan meningkatkan kreatifitas perkembangan film Indonesia kedepannya. Sedangkan apresiasi terhadap para penonton yang menyukai film, Pak Chand menambahkan, pemerintah perlu memperluas pertumbuhan pasar yang baru, mengacu pada UNESCO bahwa satu layar bioskop dibuat untuk 10.000 penduduk, maka kita masih kekurangan 24.500 layar bioskop lagi. Layar bioskop sebanyak itu tentunya harus diisi dengan film-film bermuatan lokal yang tidak kalah bersaing dengan film-film internasional yang sekarang masih kalah digandrungi oleh kaum muda. Namun sayangnya, menurut Pak Chand, meskipun film di negeri ini sudah diatur Undang-undang sebagai produk budaya kreatif, tapi kita masih belum memiliki undang-undang mengenai kebudayaan itu sendiri.
  • Film yang baik yang mengandung unsur pendidikan dan kebudayaan, sangat positif untuk dapat diterima oleh masyarakat kita, contohnya adalah keberhasilan film "Laskar Pelangi",  sebagai bukti bahwa film yang sangat baik bisa diterima oleh penonton. Pak Chan juga mengemukakan bahwa film yang baik seperti ini dapat membantu sebagai upaya strategis dalam menangani kondisi masyarakat yang less moral dan less ahlak. Film memang bisa memberikan pencitraannya sendiri terhadap suatu bangsa, contohnya bangsa Amerika yang berhasil mencitrakan dirinya sebagai negara kuat adidaya, melalui berbagai filmnya yang kental dengan teknologi sci-fi, superhero, dan juga film yang sangat menyentuh kedalam personal jiwa manusia itu sendiri, disamping memang budaya bebas mereka yang juga sering ditunjukkan dalam film-filmnya, namun itulah hal ini menunjukkan bagaimana film itu bisa menggambarkan karakter suatu bangsa.
  • Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh pembuat Film Edukasi terutama di Indonesia, mengutip dari perkataan Pak Chand, "....tantangannya cukup beragam, sejalan dengan pendekatan pemilihan tema film yang dibuat, kualitas penggarapan yang tentu berhubungan erat dengan biaya produksi, kreativitas promosi, dan dibantu edukasi apresiasi penonton. Bila beragam tantangan tersebut dapat diatasi, maka "kelemahan" perfileman yang terlalu berorientasi pasar ini akan segera berakhir, dan citra film nasional semakin baik".  Itulah, bahwa tantangan dalam membuat film edukasi akan selalu ada, tinggal bagaimana kita berkomitmen dengannya.
  • Negara kita adalah negara yang luas secara geografis maupun demografis, serta memiliki keberagaman yang unik satu sama lain, mau seunik apapun sebuah film, menurut Pak Chand tetap akan memiliki nilai universalitasnya sendiri yang dapat diterima oleh penonton di seluruh dunia, sehingga eksotisme budaya, alam, serta kearifan lokal yang kita miliki, bisa menjadi karakter tersendiri dalam karya film nasional, ungkap Pak Chand. 
  • Film merupakan jembatan antara pendidikan, budaya dan masyarakat, jika bisa diolah dengan baik maka akal lahirlah film-film yang benar-benar mencerminkan budaya suatu bangsa, bagaimana menurut anda? , tontonan seperti apakah yang menurut anda layak untuk ditonton. Ummm berbicara  tentang film-film nasional maupun internasional yang bermuatan edukasi, contohnya adalah film animasi seperti Finding Nemo, atau Harry Potter, film imajinasi dan fantasi, anak-anak terutama sangat menyukainya, sayangnya di Indonesia belum ada film yang bisa sebanding dengan film-film itu, sehingga anak-anak juga bisa ikut merasakan, misalnya bagaimana kuatnya superhero Indonesia seperti "Gatot Koco" yang diolah seperti film sci-fi atau film superhero lainnya. hahaha, asyik ya kalau bermimpi itu, yaa, mudah-mudahhan saja kedepannya ada salah seorang yang dapat mewujudkan film-film dengan teknologi yang lebih canggih sehingga film nasional tidak kalah dengan film internasional. Satu lagi, film juga dapat mendukung para pengajar dalam mendidik anak-anaknya, jika ada satu saja film yang isinya mengandung unsur pembelajaran Fisika misalnya, sehingga persepsi anak-anak terhadap mata pelajaran fisika, matematika, dan lain sebagainya menjadi lebih fun, asyik dan menyenangkan yaa, seperti Film Galileo the weirdo dari Jepang, yang menceritakan seorang profesor yang dapat memecahkan berbagai kasus kriminal dilihat dari ilmu fisika, wow, saya pun melihatnya sampai merinding loohh, hihihi. Okey, jya, berikut ini saya ingin mengungkapkan film-film favorit saya, yang menurut saya banyak mengandung muatan moral dan edukasi yang baik (kebanyakan film animasi sie, gkgkgk, tapi film edukasi itu juga tidak harus film yang bermuatan pendidikan formal saja, namun juga nilai dan pesan-pesan kehidupan yang baik ya), Jya Selamat Menonton everyone :)
Helen Keller, this movie Inspirasi Gue banget, 10 STARS :)

I adore this movie very much, kita tidak bisa mengesampingkan peran yang kecil :)
Awalnya tak pernah didengar, akhirnya didengar juga, so dont judge the people on the first time..
setiap kekurangan yang kita punya pasti ada kelebihannya :)
ketulusan dan kerjasama :)
Jujur pada diri sendiri and just trust yourself :)
my favorite, humpp, teach us about ketulusan, arti kebahagiaan sesungguhnya, thumbs up :)
kepercayaan pada diri sendiri, yeeah, selalu  jadi semangat setiap nonton film ini :)
kepercayaan untuk bisa, dan tidak terlalu berambisi, like it....
awalnya karena cemburu, lalu menjadi jahat but then he realize its not a good way, itulah kehidupan
konsisten, tidak takut apapun, percaya akan nilai kebaikan akan membawa kebaikan
kebijaksanaan seorang raja :)
betapa museum itu sesungguhnya hidup, dan kita bisa belajar banyak dari sejarah :)
kerjasama antara orangtua dan anak, and berimajinasi dengan anak itu perlu :p
truly imagination, but how we can humble ourself :)
yang baik pasti akan menang melawan yang buruk,,hahahaha yuuu...
aku tak bodoh, tapi aku hanya ingin dipahami, di dengar dan mari kita bicara moms :)
we will know, when we change ourself, dont say its hard to get to you, but its mean, you just dont know how to be me :)
teman sejati akan selalu menjadi teman sejati walaupun harus berperang dulu, haaaa...
all become clear when we try to accept the differences and try to understand each other :)
how a sister always keep and protect us, love my sistaaaa, hiks, even I dont have one :)
apapun bisa terjadi, bukan semata-mata kekuatan fisik, tapi a strong hearth and mind :)
percaya kita pasti bisa sukses mencapai impian :)
kesabaran membuahkan hasil :)
pintar dalam ilmu fisika itu ngga rugi ternyata, bisa bermanfaat untuk lingkungan, daan komitmen ilmuwan untuk tidak menyalahgunakan kemampuannya, love it :)

Comments