Skip to main content

Semut Api, Karet, dan Gelembung Udara


Photo taken here : link

Dan fleksibilitas itu seperti karet, seperti  gelembung di udara, bebas, lepas, bisa ke atas atau ke bawah, bisa memanjang atau pun memendek. Meskipun mereka terjatuh, putus, bahkan menghilang di udara, mereka tetap diabadikan sebagai karet dan gelembung.

Pernah dengar semut api? mereka adalah komunitas mahluk hidup yang paling kompak, kuat, dan pantang menyerah se-antero jagat raya. Tekanan apapun yang kau coba untuk menarik mereka, ikatannya tak akan pernah bisa lepas walau di tarik buldozzer sekalipun. Hebat kan.. Tapi jangan pernah coba-coba untuk menarik mereka, jika tidak mau terkena gigitannya yang panas, perih dan gatal.

Karet, gelembung udara, dan semut api...perumpamaan yang kental atas suatu sikap, upaya dan eksisitas yang ajeg, sederhana, seolah tak bermakna dan anonim tapi selalu "ada". Mereka mungkin hadir di "ruang beku" kehidupan manusia yang jarang sekali tersentuh oleh hati-hati yang "sibuk", "lusuh" dan "terperdaya".

Semut api tak pernah marah, tak pernah mereka putus asa, sekalipun akar dan rakit mereka dicabut dengan paksa, semut api yang lain akan langsung menggantikan semut api yang tercabut, dan rakit mereka tetap "utuh", bahkan air sekalipun tak bisa menembusnya. "Keutuhan" seperti inilah yang sudah jarang sekali kita temukan dalam komunitas mahluk hidup yang katanya paling "mulia" di dunia ini.
Manusia terlalu "rentan" terhadap "permusuhan", tersenggol sedikit jadi marah, mudah tersinggung dengan segala ucapan, yang pada akhirnya membikin "dunia" ini menjadi tak "utuh" lagi.

Mungkin kita tak bisa seperti "karet" yang mudah "merubah" bentuk dalam setiap keadaan, tapi kita bisa seperti "gelembung udara" yang bebas pergi ke segala penjuru arah tanpa ikatan apapun. Bebas melemparkan dirimu ke udara, tanpa sesak, tanpa "echo" yang menggemakan "instink" rendahmu untuk menjejal "batin" mahluk tak bersalah.

Tapi, tak dipungkiri, dimanapun berada, kita butuh  "manusia-manusia karet", "hati-hati karet" dan pikiran-pikiran yang "karet". Yang mau berubah dan "menyamakan" persepsi , memanjangkan---(baca: melapangkan) hati  dan memperpendek ego dalam berbagai dimensi waktu dan ruang, namun tetap tak kehilangan ke-eksisannya sebagai "karet".  Jika hidup seperti ini, nampaknya tak akan ada "kepala" orang yang dipancung hanya karena sebotol "kecap" asin misalnya.
Manusia dan mahluk lain akan damai, mau hidup berdampingan, tanpa ada lagi "kamu" dan "aku", tapi "kita", "us", "watashitachi wa", "bersama" seperti semut api yang tak pernah lekang akan apapun, namun tetap menjadi dirinya sendiri yang bebas seperti gelembung di udara, kuat dan penuh semangat seperti api yang membara. Bahkan mampu meresonansikan dan "melipat" dirinya dalam nada dan ruang yang berbeda.

Rupanya untuk menjadi manusia "semut api",  kita membutuhkan filosofi karet dan gelembung udara, yang mampu mengkristal saat "dunia luar" menekan, dan mampu mengembang saat "dunia luar" tak fokus. Apapun yang orang lain katakan, pikiran dan perasaannya bisa mengembang dan mengkristal, tanpa harus "membekukan" senyawa lain. Dan ia bergerak bebas di udara, tanpa menoleh ke atas, ke bawah, ke kanan, atau ke kiri, ia hanya "merasakan dirinya". Dirinya yang ternyata tak pernah sama, unik, dan yang bersimpuh lutut dihadapan kekuatan terdasyhat yang pernah ada. Yaa ternyata...Semut Api, Karet dan Gelembung Udara adalah ciptaan Tuhan yang memang sengaja di "adakan" bagi jiwa yang "berpikir".




Dibuat dalam sudut ruang ilusi dan kontemplasi...

With Love

Ghie


Comments