Skip to main content

Dibalik Layar Sekolahnya Manusia...

...Di pedalaman suatu negeri antah berantah..
...Sang Kuda yang hebat dan kuat, berlari kencang dihembus angin, begitu pun sang cheetah yang liar, bebas, berani, dan tak takut apapun, berlari mengikuti kuda, berkejar-kejaran di padang rumput yang luas.
...Burung elang melayang di angkasa, mengepakkan sayapnya dan berputar-putar di udara..Diikuti oleh burung-burung pohon kecil sambil melantunkan lagu lembah yang ceria...
...Hewan lain pun ikut berlari-larian, kelinci dan tupai yang pandai melompat, sibuk dengan makanan kesukaannya masing-masing, sambil menunjukkan gigi kecilnya yang khas...
...Pagi itu, semua binatang di lembah prajurit bernyanyi gembira menyambut hari baru, hari dimana mereka semua akan bertemu dengan seorang Raja. Raja yang bijaksana dan penuh kasih sayang, bernama "The King of The Teacher". 
..........
Para binatang itu semangat sekali untuk belajar bersama Raja di kerajaannya yang bernama "The Kingdom of The School". Mereka tersenyum, tertawa, riang, dan penuh canda, berharap Sang Raja memberikan sebuah pengetahuan baru yang akan membuat mereka menjadi lebih hebat. 

Namun, tak disangka, para binatang itu terkejut saat Raja menyuruh mereka untuk melakukan sesuatu yang jauh berbeda dengan kemampuan yang mereka miliki. 
Kuda dan Cheetah yang pandai berlari, diberi tugas untuk terbang melintasi lembah, sedangkan sang elang dan burung-burung lainnya yang pintar mengudara di langit, diminta Raja untuk berlari di darat. Hal serupa juga menimpa kelinci dan tupai, mereka yang pandai melompat dan mengerat,  malah diminta untuk berjalan lambat seperti kura-kura. 

Akhirnya semua binatang hari itu pulang dengan sangat lelah dan perasaan yang sedih..mereka tampak tidak menikmati tugas-tugasnya, yah apa mau dikata, esoknya para binatang yang tadinya begitu ceria menunggu kehadiran Sang Raja, tidak mau lagi pergi, dan "The Kingdom of The School "  menjadi sepi kembali tanpa kehadiran para binatang yang hebat-hebat itu.....The End


Itulah kisah pembuka inspirational yang saya ambil dari diskusi mengenai pendidikan juara di negeri ini. Kisah di atas hanya merupakan gambaran dan ilustrasi sebuah proses pengajaran yang mungkin selama ini sering terjadi di masyarakat. Tanpa kita sadari, sekolah-sekolah, tempat anak-anak dan adik-adik kita belajar, menjadi sebuah tempat yang menggiring mereka bukan kepada potensi dan fitrah terbaiknya, namun justru malah mematikan semangat dan menutup potensi yang sebenarnya. Sungguh sangat disayangkan jika hal seperti ini terjadi. Oleh karena itu, sebagai orang tua, guru, dan siapapun yang peduli terhadap pendidikan, sudah berapa jauhkah kita mengenal dan menempatkan anak serta adik kita sebagai manusia yang sesungguhnya?

Dalam Seminar Nasional Pendidikan bertajuk "Asah Gergaji Pendidikan Bersama Indonesia Juara", Pak Munif Chatib, seorang pakar dalam dunia pendidikan anak usia dini, mengungkapkan pentingnya pendidikan yang mengedepankan potensi anak didik berdasarkan karakter dan multiple intelligences. Dua hal yang memang sudah tidak asing lagi di dengar, namun pengaplikasiannya di Negeri ini masih jauh "terdengungkan". Ada beberapa poin yang dapat saya ambil dari pengalaman seminar bersama Bapak Munif Chatib, yang akan saya bagi ke dalam tiga ranah, yaitu, Fenomena Ranking dan Penilaian, The best Teacher, dan Balada Les. Tulisan ini murni dari hasil penyampaian materi yang disampaikan oleh pembicara, adapun tambahan lainnya berasal dari pengalaman penulis mengajar serta dari buku yang pernah penulis baca. Sebelumnya penulis mohon maaf jika ada salah penulisan dan kata-kata yang mungkin tidak berkenan di hati, baiklah selamat menikmati. :)

Detik-detik menunggu Pak Munif Chatib


Fenomena Ranking dan Penilaian
Satu gambaran nyata bahwa pendidikan di Negeri ini masih bertolak belakang dengan tujuan pendidikan nasional "memanusiakan manusia". Gambaran ini salah satunya terlihat dari berjamurnya "sistem ranking" pada raport, yang bukan saja membedakan anak-anak berdasarkan prestasinya, namun tanpa sadar secara perlahan "membunuh" karakter dan semangat anak-anak kita.

Pak Munif Chatib memberikan sebuah ilustrasi, di salah satu sekolah asuhannya, ada seorang anak laki-laki bernama Umar, ia memiliki kelebihan dalam kecerdasan psimotorik dan seni. Pada saat pembagian raport, orang tuanya datang ke sekolah, dan ibunda Umar tampak kaget saat diberitahu bahwa Umar naik kelas, padahal Umar selama ini nilainya "kecil-kecil", di raportnya saja tidak ada angka "7", lalu beliau bertanya pada wali kelasnya, "kenapa anak saya bisa naik kelas bu?", ibu guru Umar menjawab, "Ibu, hanya ada dua hal di sekolah ini yang bisa membuat anak itu tidak naik kelas, pertama jika ia berturut-turut dalam jangka waktu 1 bulan lebih tidak masuk sekolah, dan kedua jika ia melakukan tindakan kriminal yang sangat berbahaya, misalnya membunuh, mencuri, narkotika, dll, Umar selama ini bersemangat sekali ke sekolah, bahkan tidak pernah tidak masuk, ia juga anak yang baik, kami tidak melihat dari angkanya bu, penilaian di sekolah ini ada dua, penilaian akademis dan penilaian potensi, lebih baik ibu sekarang datang ke meja projectnya Umar, di sana ia sedang membuat lukisan dari pasir dan undur-undur". Begitu ibunya Umar melihat anaknya sedang mendemonstrasikan project yang sungguh kreatif itu,  semua orang terpana melihat keajaiban undur-undur yang dapat menciptakan suatu gambar istimewa di atas pasir saat mereka bergerak, ibunya pun menangis dan terharu melihat kecakapan Umar. Saat Umar diminta untuk berpuisi, dengan lantang Umar berkata sambil terbata-bata "Undur-undur hidup itu tidak boleh mundur". Bravoo Umar...

Seringkali kita terpatok pada nilai raport dan rangking di sekolah, anak-anak yang merasa sudah berusaha keras, namun ternyata tidak mendapatkan piala rangking 1, 2, atau 3, merasa cemburu dan tak semangat lagi. Rupanya anak yang cerdas masih terpatok dengan label "Rangking 1". Sesungguhnya, bukan "rangking" yang menjadi masalah, tapi bagaimana kita menempatkan bahwa setiap anak itu juara, jadi alih-alih memberikan label juara 3, 2, dan 1 pada beberapa anak, lebih baik menyebutkan dan memberikan piala pada setiap anak di sekolah kita, dan mengatakan bahwa mereka semuanya adalah juara dan hebat-hebat. Seperti pengalaman saya mengajar TK dan SD di salah satu sekolah swasta di Bandung (Link ke sekolah tempat saya pernah belajar memahami anak-anak ada di sini yaa, namanya sekolah Cendekia Leadership School) di sana memang tidak ada sistem rangking, setiap anak mendapatkan dua nilai, nilai akademik berupa angka pada beberapa mata pelajaran yang sesuai dengan kurikulum pendidikan, dan nilai potensi/karakter/ahlaknya selama di sekolah. Di sana juga disebutkan bagaimana perkembangan dan kelebihannya selama periode tertentu, anak-anak juga harus melakukan project khusus sesuai dengan minat yang mereka sukai di akhir semester. Setiap sebulan sekali biasanya kita semua akan berkumpul di Aula, dan memberikan reward berupa sertifikat yang menyebutkan, misalnya "ter-aktif", buat mereka yang sering aktif bertanya di kelas, atau misalnya, "ter-lambat", bagi mereka yang sering terlambat masuk ke sekolah, ahahahaha.  Di sekolah ini, memang belum semuanya mendapatkan "label juara", namun setidaknya hal itu sudah menjadi langkah kecil menuju ke arah sana. Menurut Pak Munif Chatib, akan lebih baik jika anak di panggil satu-satu ke depan, dan diberikan penghargaan sesuai dengan kemampuannya masing-masing, dan katakan bahwa semuanya adalah "J-U-A-R-A". 

*Sebagai tambahan di Negeri Sakura, Jepang, juga tidak memberlakukan sistem rangking di sekolahnya, karena mereka memiliki filosofi, bahwa setiap anak bisa menjadi yang terbaik bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Orang Jepang lebih menyukai keumuman tanpa ada satu-dua orang yang terlalu menonjol. (Diambil dari Buku Rahasia Pendidikan Dari Negeri Sakura By Nesia Andriana Arif) 

Setiap anak sesungguhnya cerdas, ia memiliki multiple intelligence yang khas dan unik. Kecerdasan seseorang tidak terkait dengan kondisi fisik, kondisi otak (brain), ataupun dengan hasil tes-tes standar. Kecerdasan itu bisa dibentuk dari kebiasaan serta perilaku yang dilakukan berulang-ulang, dan salah satunya dapat terlihat dari kreatifitas, dan problem solving. Ada 8 Multiple Intelligence yang terkenal dari Howard Gardner, diantaranya yaitu: Cerdas Bahasa, Cerdas Alam, Cerdas Diri, Cerdas Angka, Cerdas Gambar, Cerdas Musik, Cerdas Bergaul dan Cerdas Gerak. 

Gambar diambil dari sini

Multiple Intelligence yang ada dalam diri seseorang, masih tertanam jika ia tidak mendapatkan stimulus yang tepat. Kajian mengenai teori lebih dalam tentang Multiple Intelligence ini dapat anda baca sendiri dalam beberapa sumber yang tersebar di toko buku tentunya. 

Pak Munif Chatib menjelaskan, informasi mengenai multiple intelligence yang dimiliki anak saat sebelum ia masuk ke sekolah, diperlukan untuk mendapatkan proses pembelajaran yang tepat, sehingga hasil atau penilaian yang didapat pun bisa lebih otentik dalam menggambarkan perkembangan serta potensi anak didik kita. Salah satu ilustrasi yang saya dapatkan adalah seperti ini:

foto by me

Dari gambar kita lihat ada segitiga, lingkaran dan persegi, mereka tersenyum dan ingin sekali belajar di sekolah, namun sayangnya setelah mereka keluar dari sekolah, mereka menjadi "bukan dirinya", dan bersedih hati karena bentuk dan warna mereka semua menjadi "sama", horeee, tapi jleeeb, inilah yang mungkin terjadi jika sekolah belum mengetahui potensi anak didik yang sebenarnya, hingga outputnya pun menjadi tidak relevan lagi, dan hasilnya adalah berapa banyak mereka yang sesungguhnya "cerdas", namun sulit untuk masuk ke jurusan yang diminati atau saat mereka dewasa menjadi pengangguran karena "miss identity, miss conception and lack of creativity" yang memang kurang dibangun sejak awal. 

Sekolah yang baik adalah sekolah yang mendesain kurikulumnya berdasarkan input data masing-masing kondisi/kemampuan anak, sehingga anak-anak merasa nyaman belajar, karena mereka tidak merasa seperti sang kuda dan kawan-kawannya yang disuruh melakukan sesuatu yang bukan keahliannya. 
Pak Munif juga menambahkan, bahwa desain kurikulum yang baik, menekankan pada tiga aspek penting, yaitu, aspek jasmani ruhani, agama&ahlak, serta character building/pembentukan potensi, sehingga sekolah sebagai "agent of change" adalah sekolah yang berperan sebagai agen pengubah kondisi siswa dari kondisi negatif menjadi kondisi positif. 

Penilaian yang otentik merupakan suatu usaha dalam memahami kemampuan seseorang secara luas, yang bukan saja diliat dari sisi kognitif, namun porsi paling besar adalah penilaian afektif-ahlak lalu diikuti kreatifitas-psikomotorik. Satu hal serupa yang pernah saya dapatkan dalam mata kuliah penilaian Pendidikan Dasar, bahwa saat seorang guru membuat soal, maka jangan hanya membuat soal dalam kriteria tunggal, namun bagaimana caranya dari alat penilaian tersebut kita dapat menggali (how to discovering) harta karun yang masih terpendam dalam setiap diri anak didik kita. 

Membuat penilaian yang otentik itu tidaklah mudah, karena untuk membuat suatu assesment yang benar-benar tepat menggambarkan kondisi siswa memerlukan kecakapan serta ketelatenan selain juga komitmen dari guru itu sendiri untuk melakukan yang terbaik demi anak didiknya. Oleh karena itu, informasi mengenai bagaimana kondisi kecakapan siswa sebelum siswa belajar,  sangat membantu khususnya para pendidik dalam melakukan assesmentnya.

Dalam menilai, ada dua kemungkinan, ketika hasil test yang diberikan menunjukkan scor yang tinggi, bisa jadi soal yang digunakan oleh guru memang sudah tepat menggambarkan potensi anak, atau bisa jadi soal itu terlalu mudah bagi anak. Sedangkan saat tidak ada satu pun anak yang bisa mengerjakan soal tersebut, kemungkinannya adalah, jenis soal yang diberikan belum  mengukur secara tepat kemampuan anak, atau mungkin materi yang diberikan guru belum dipahami dengan jelas. Oleh sebab itu, bukan anak kita yang bodoh dan tidak bisa menjawab, namun kita, para pendidiklah yang belum bisa memberikan atau membuat penilaian yang benar-benar tepat untuk mengukur kemampuan anak dengan maksimal. 


Pak Munif Chatib menekankan, bahwa raport siswa sebaiknya bersifat komprehensif dari ke tiga ranah, (afektik, psimotorik, dan kognitif), untuk melihat kemampuan psikomotorik dapat dilihat dari pameran produk atau project yang dilakukan oleh anak-anak, dan sebaiknya tidak ada sistem rangking, namun lebih kepada pendekatan yang sifatnya ipsative atau pendekatan secara individual. 

Selain itu, penilaian terhadap multiple intelligence, sebaiknya dilakukan beberapa kali, karena perkembangan serta potensi seseorang akan terus tumbuh dan berkembang setiap saat. 

Di bawah ini beberapa dokumentasi yang masih saya simpan saat dulu membuat projek sederhana bersama anak-anak PAUD dan dari semuanya terlihat bahwa anak-anak itu sangat kreatif yaa...


Alif sedang memegang boneka kertas tempel kreasinya...


Boneka kertas yang lain....




Kalau yang ini kreasi tangan dari anak Play Group, namanya Noura dan Shasha..



Yang ini hasil mewarnai anak-anak kelas 1 SD,,



Dan ini hasil karya mereka berupa kartu ucapan untuk ayah dan bunda....


Dan yang satu ini sedang asyik melipat dan me-lem kertas origami, mau dibikin apa ya..


Eh ada juga yang tertidur nie saat waktunya sholat bersama, hihihhihi...*balada anak PAUD


Ini hasil karya boneka ginger bread ala TK B setelah mendengar kisah ginger bread...


This is my TK B yang aduhaaaiii.....bravo...bravo....miss u all :)




The Best Teacher
Kunci pendidikan atau the master of education is a teacher...tanpa seorang guru, maka proses pembelajaran tidak dapat berlangsung. Siapapun bisa menjadi guru, tapi untuk  menjadi "the best teacher" adalah pilihan.

Menciptakan proses belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan. Umm, terdengar mudah ditelinga, namun aplikasinya sungguh luar biasa. Pengalaman menjadi guru di TK dan SD kelas 1 dampai kelas 3 selama enam bulan, bagi saya yang dulu sempat "anti" menjadi guru, hehehe, membuat saya justru ingin memeluk dan memberikan big applause pada guru yang telah hebat selama bertahun-tahun mendidik para siswanya. Bagaimana tidak, dalam proses mengajar bukan hanya guru saja yang aktif berbicara di depan kelas, tapi tantangan yang paling besar adalah bagaimana kita bisa mendorong anak-anak agar merekalah yang "aktif" dan bukan kita. Mungkin ada beberapa anak yang mudah sekali termotivasi, namun saat berhadapan dengan seorang anak yang sulit diajak bicara, cenderung diam, atau mungkin melakukan perilaku yang cenderung mengganggu anak lainnya, naaah disanalah tantangan bagi guru yang sebenarnya. Meskipun, sebagai guru sebaiknya tidak terlalu fokus pada anak yang pintar atau yang "lincah" saja, tapi kesemuanya harus sama dengan pendekatan yang berbeda-beda, dan itu butuh tenaga serta usaha yang ekstra, semangat untuk para guru!!...

Pak Munif memproyeksikan bahwa ketika gaya mengajar seorang guru sama dengan gaya belajar siswanya, maka tidak akan ada pelajaran yang sulit dan membosankan. Sehingga, dalam proses strategi mengajar yang baik, diperlukan suatu proses belajar yang memang menyenangkan dan berkualitas bagi semua kondisi. Guru juga sebaiknya memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam membaca perkembangan, potensi, serta gaya belajar anak didiknya, beraaat yaah jadi guru itu, weleh weleh weleh. Kalau saya boleh sharing, dulu saya pernah disuruh untuk mengajar bidang studi sosial, namun harus terkait dengan tema pembelajaran saat itu, yaitu "plant". Wah, bingungnya saya, bagaimana caranya mengaplikasikan "plant" dengan sosial, akhirnya saya minta bantuan mbah "google", dan dapatlah worksheet mengenai aplikasi pemakaian tumbuhan dan tanaman dalam kehidupan sosial manusia untuk elementary school, seperti di bawah ini:


Saat mulai mengerjakannya bersama anak-anak, disitulah saya baru melihat beragamnya cara anak mengerjakan tugas yang sama, ada yang sambil berlari kesana-kemari sambil memperhatikan benda-benda di sekitarnya, ada yang duduk manis sambil serius mengerjakan, dan ada juga yang belum memulai apapun. Perbedaan gaya belajar anak ini, menjadi tantangan tersendiri, sehingga mau tidak mau, saya pun harus mengikuti pola belajar mereka, bahkan, dalam satu waktu saya harus membuat tugas atau penilaian yang berbeda bagi tiap-tiap anak. Kebayang khan kalau jumlah siswa satu kelas ada 30 orang atau lebih, beeuhh bisa gemporrr deh gurunya...

The best teacher menurut Pak Munif Chatib, yaitu sejatinya adalah gurunya manusia, ia bisa menjadi fasilitator, katalisator, dan tidak terjangkit virus 4T, apa itu 4T??, 4T:

  • Task Analysis, kerjanya hanya fokus pada menganalisis tugas yang sifatnya administratif saja.
  • Traching, hanya mengumpulkan anak-anak yang pintar di kelas, 
  • dua T yang lainnya saya lupa, maafkan, tapi intinya virus yang lainnya itu berhubungan dengan time management kalau tidak salah, sudah memberi soal, jrung langsung pulang deh gurunya, ahahahahaha.
Pembelajaran yang aktif adalah saat dimana siswa yang aktif belajar, dan siswa mengetahui sesuatu, selain itu menurut Pak Munif, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang sifatnya "Applied Learning", yaitu pembelajaran yang langsung dikaitkan dengan aplikasi pada kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak-anak bukan hanya belajar materi yang abstrak di kelas. Contohnya kegiatan berkunjung ke peternakan, perkebunan, perusahaan air minum, rumah sakit, dll, sehingga mereka bisa melihat sendiri bagaimana aplikasi "materi" yang mereka pelajari di dalam lingkungan. Di bawah ini adalah field trip anak-anak PAUD ke Statiun Kereta, untuk memperkenalkan anak-anak tentang tema pembelajaran yaitu "transportation", nah salah satunya kereta dan pernak-perniknya...

Bu Srie sedang membantu mio memesan tiket kereta api.. :)
Foto ini diambil dari sini. Foto ini adalah salah satu kegiatan yang dilakukan guru dalam proses "applied learning", untuk memperkenalkan bagaimana dunia perkereta-apian pada anak-anak PAUD. 
Gambar dari sini


Guru harus menjadi "sobat" dan "best friend"nya orang tua, dan orang tua juga sebaiknya memahami bahwa tugas dan pekerjaan guru itu sangat berat. Pengalaman saya selama mengajar, ternyata mengajar itu seperti olahraga, jutaan keringat langsung mengucur saat beraktifitas bersama anak-anak, dan "beban pikiran" saya langsung hilang dalam sekejap, because we are not focus on our self but we focus on the kids, how to make them happy and enjoy the learning, and when I saw them smile, it's like a joy has through my soul. Ternyata benar ya, konsep memberi dan memberi, dan tidak terlalu fokus pada diri, membuat hati lebih bahagia, haa betapa rindunya mengajar mereka bernyanyi dan melakukan aktifitas bersama :) 

Balada Les
Tahukah ibu dan ayah, ketika anak kita pulang dari sekolah, selesai menimba ilmu, sesungguhnya otak mereka sedang mengalami "down shifting" atau "re-fresh brain". Otak anak kita perlu istirahat, oleh sebab itu, menjejali mereka dengan les atau pemantapan materi pelajaran sepulang sekolah,  sama dengan pemaksaan secara kognitif, yang berarti  akan berakibat pada kemunduran ahlak dan kreatifitas. Anak-anak akan merasa kelelahan dan akhirnya menjadi stress. 

picture from here
Pak Munif menyatakan, bahwa jika anak kita masih membutuhkan les bidang studi di luar sekolah, hal itu menandakan gagalnya pekerjaan guru di sekolahnya. 
Les itu sejatinya adalah LIFE SKILL, materinya merupakan pengembangan dan pemantapan dari bakat anak dan bukan materi bidang studi. 
Tips bagi para ibu atau orang tua yang bekerja, ketika kita baru pulang ke rumah dan menemukan anak kita sedang bermain setelah pulang dari sekolahnya, jangan dulu tanyakan "ada PR nak?" atau "gimana pelajarannya di sekolah?", biarkan anak kita istirahat dan melakukan hal-hal yang disukainya, cukup memberikan motivasi dan dorongan untuk terus melakukan yang terbaik atau ikut gabung bermain bersama anak-anak, sehingga mereka lebih merasa dihargai dan nyaman berada di rumah, oleh sebab itu perlunya hubungan baik antara guru dan orang tua, agar secara continue dapat mengkomunikasikan hal-hal apa saja yang telah dilakukan anak selama belajar di sekolah. 

Satu kata mutiara dari Pak Munif yang akan selalu saya ingat adalah "Tidak ada anak yang bodoh, yang penting adalah "respon" yang tepat, itulah character building yang sesungguhnya, bahwa respon yang kita ucapkan kepada siapapun, terutama pada anak kita, merupakan gambaran atau kata-kata kecil dari ahlak, yang secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak kita nanti". 

Oke, itulah sedikit oleh-oleh seminar bersama Pak Munif Chatib, semoga bermanfaat dan jika ada kekurangannya mohon dimaafkan ya. Oh ya, dari seminar kemarin kami pun menapat oleh-oleh berupa Buku karya Pak Munif Chatib yang berjudul Orangtuanya Manusia, CD Juzz Amma, dan juga voucher training senilai 250 ribu rupiah yang dapat kita gunakan untuk mengikuti salah satu training yang diselenggarakan oleh yayasan Indonesia Juara. Ini dia oleh-olehnya, terima kasih Indonesia Juara, semoga Generasi Indonesia berikutnya benar-benar menjadi Juara yaaa....Aamiin...

Buku Orang tuanya manusia yang siap dibaca....

Murrotal Al-Quran

horeee dapat voucher training, alhamdulillaah :)

Sertifikat Seminar (namanya salah, yaaah...)
* Link ke sekolah tempat saya pernah belajar memahami anak-anak ada di sini yaa, namanya sekolah Cendekia Leadership School Bandung..

Comments

Ario Prianata said…
Mantab teh, teruskan sharing hal-hal yg positifnya teh.. :)
Ario Prianata said…
Mantab teh, teruskan sharing hal-hal yg positifny teh.. :)
Ghiee said…
thank you yaa udah baca... ;) aamiin, insya allah