Skip to main content

Messy think about Cuti Mencuti...

I wanna clear some messy thing that come up on my mind...

Today, I posted on my timeline at FB, like this..."...tidak seperti negara Jepang yang memberikan cuti 8 tahun pada ibu hamil...." unfortunately...nampaknya saya menyimpulkan ini mungkin secara sembarang...sebenarnya saya sedang membaca buku yang berjudul "Orangtuanya Manusia" karya Bapak Munif Chatib, saya pernah satu kali datang ke seminarnya di Bandung.
Saat membaca pada halaman 16-17 ada paragraf yang menyatakan seperti ini (saya sadur semuanya dari buku, tanpa ada yang dirubah ya kata-katanya)...


"seorang sahabat semasa SMU punya kesempatan belajar S2, S3, dan bekerja di Tokyo. Dia cukup kaget melihat suatu budaya kerja yang berkaitan dengan karyawati yang sedang hamil. Lewat e-mail, sahabat ini menceritakan teman sekantornya, seorang perempuan berpendidikan tinggi yang telah menikah dan hamil. Sesuai budaya Jepang untuk ibu hamil, si ibu muda itu segera menulis surat pengunduran diri. Lalu, pemimpin perusahaan mengadakan semacam upacara perpisahan sederhana. Pada acara tersebut, berkumpullah semua karyawan dan sang pemimpin untuk melepas ibu muda yang sedang mengandung tadi. Kemudian, sang ibu hamil ini berpidato: "Maaf teman-teman, hari ini adalah hari yang paling penting bagi hidupku. Aku tengah mengandung anak pertamaku. Janin di perutku ini sekarang adalah proyek besarku. Jadi, izinkan aku sementara waktu meninggalkan kalian, berhenti sebentar untuk berkonsentrasi pada perkembangan janinku." Kebanyakan ibu hamil akan mengikuti kursus dan pendidikan ibu hamil pada lembaga yang biasa disebut prenatal school. Biasanya, wanita di Jepang akan bekerja dan berkarier kembali ketika anaknya sudah berusia 8 tahun ke atas atau setelah melewati usia golden age". 

Nah, kalimat yang saya beri warna merah ini yang melandasi saya membuat status di FB...tadinya saya pikir, wanita Jepang kembali bekerja setelah 8 tahun mengasuh anaknya,  umm mungkin karna pemerintah Jepang yang mentetapkan seperti itu alias ada cuti selama 8 tahun. Kronologis detail sebelum saya menulis status di FB, adalah sebagai beirkut..

Kebetulan tadi sebelum menjelang magrib, ibu saya bercerita tentang ceramah di salah satu TV Swasta,  yang mendatangkan Psikolog Anak. Ibu saya mengatakan, menurut Psikolog tersebut, pada usia 0-7 tahun, sebaiknya anak tidak boleh di marahi, atau di bentak-bentak. Psikolog itu juga menyatakan, pada saat anak berusia 0-7 tahun, harus ada salah satu dari kedua orang tuanya yang berada di rumah atau tidak bekerja dulu. Setelah mendengar cerita dari Ibu, saya jadi teringat akan tulisan dalam buku di atas, dan juga hasil sharing beberapa bulan yang lalu bersama salah satu ketua Pusat Studi Jepang (Pusjuki), Ibu Anni Iwasaki, tentang masalah pengasuhan anak. Beliau mengungkapkan dalam ceramahnya...Ibu-ibu di Jepang pada umumnya tidak bekerja saat sedang hamil dan mereka cuti dari pekerjaannya dan kembali bekerja setelah anaknya berusia sekitar 7/8 tahun...(perkataan cuti ini yang membuat persepsi dalam kepala saya...bahwa cuti hamil di Jepang itu selama 8 tahun, hehehe), saya pernah mengulas tentang hasil sharingnya di blog saya yang lain di sini .

Kemudian, berbincanglah saya dan Ibu,,

"wah, kalau dari 0-7 tahun harus ada yang dirumah salah satunya, yayang (panggilan saya di rumah, hehe) ngga bisa kerja dun kalau udah punya anak mah?"


"Iya, makanya harusnya kamu cari suami orang kaya aja, jadi ngga usah susah-susah cari kerja lagi"...


"yaah, kesana lagi deh ujungnya...haha" (saya cuma tertawa mendengarnya sambil mengucap dalam hati..."humm coba ya tinggal di Jepang aja, mau nikah sama yang kaya atau yang ngga pun, tetep masih bisa ngasuh anak dengan maksimal, di sana khan ibu-ibu yang punya anak di kasih kompensasi yang lebih...")
Sambil kembang kempis melihat "reality life" seperti ini, akhirnya pemikiran ini pun berlanjut hingga tangan saya menuliskannya di status FB...


Di atas saya menekankan bahwa yang saya tulis di FB berasal dari kesimpulan yang sembarang, yang sebenarnya secara ilmiah mungkin tidak jelas sumbernya dari mana, dan mungkin hanya " emosi" hati yang mengungkapkannya seperti itu dari beberapa pernyataan sang tokoh yang  belum saya kaji secara lebih mendalam sebelumnya...

Tulisan itu akhirnya berdampak pada "miss conception"...
Salah satu dosen saya, mengkritisi pernyataan mengenai "cuti hamil selama 8 tahun"...
Setelah itu, dosen saya memberikan link tentang masalah waktu cuti hamil dan masa pengasuhan yang sebenarnya di Jepang..dari link yang beliau berikan didapatkan informasi bahwa ternyata Cuti hamil yang diberikan pemerintah Jepang pada wanita yang bekerja hanya 6 minggu sebelum melahirkan dan 8 minggu setelahnya...sedangkan untuk masa pengasuhan di mulai dari selesai cuti melahirkan hingga ulang tahun sang anak pada tahun berikutnya (jadi kurang lebih satu tahun yaa..)...anda bisa lihat informasinya di www.Japanconsult.com

Dalam sebuah artikel di Kompasiana Online, saya pun menemukan pernyataan seorang penulis seperti ini;
"Cuti hamilnya sampai 6 bulan. Bahkan kalau sang bayi membutuhkan perawatan khusus, si Ibu bisa cuti sampai bayinya berumur setahun. Wanita yang memiliki anak usia balita, bisa mendapatkan berbagai macam hak cuti lainnya. Juga hak cuti untuk mendampingi anaknya memulai masuk sekolah pada saat si anak berusia 6 tahun...."  (link ke webnya bisa didapat di sini), adapun artikel ini di tulis pada bulan Juni 2012.

Dalam artikel kompasiana di atas, saya juga menemukan informasi bahwa di Jepang ada budaya malu pada wanitanya..memang wanita Jepang mendapatkan previlage istimewa saat sedang hamil, dan kebanyakan dari mereka malah mengundurkan diri dari kerjanya untuk mengasuh anak, karena mereka sadar akan banyak tak masuk saat mengurus anaknya...seperti ini pernyataan dalam artikel tersebut ;


"Tak ada yang menyuruh mereka keluar, tapi para wanita itu sendiri yang memilih mengundurkan diri, karena tahu diri bakal sering tidak masuk. Bahkan walaupun pihak perusahaan bersedia menerimanya kembali bekerja setelah melahirkan, mereka lebih memilih kembali bekerja setelah anak-anaknya bisa mandiri. Meski konsekwensinya hanya mendapatkan pekerjaan paruh waktu (part time) atau jadi pekerja kontrak saja".

Selain ke dua link di atas, saya juga menemukan sumber lain dari sini . Tidak ada keterangan tulisan ini dibuat tahun berapa, hanya saja di sana dijelaskan fenomena tentang wanita jepang yang agak berbeda. Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa, pasangan muda Jepang saat ini, banyak yang enggan memiliki anak, karena jika wanita memiliki anak maka mereka tidak bisa bekerja, masih ada beberapa perusahaan di Jepang yang tidak mau menerima wanita yang sedang hamil. Selain itu, biaya perumahan dan pendidikan yang tinggi serta penitipan anak yang juga tidak terjangkau menjadi pertimbangan yang dinilai cukup berat oleh kaum muda ini. Dalam tulisan tersebut juga disebutkan bahwa Dokter Kuniko Inoguchi, mantan menteri kesetaraan gender dan urusan sosial, menyatakan, sekitar 70 persen perempuan hamil di perusahaan kecil dan menengah harus keluar dari pekerjaan mereka. Bila mereka memilih untuk kembali bekerja setelah melahirkan, situasi tempat kerja bisa sangat berat.


Sedangkan untuk masalah pengasuhan anak, bagi mereka yang tinggal dalam satu rumah-satu generasi, biasanya memudahkan bagi pasangan yang memiliki anak, karena anak mereka masih bisa ditunggui atau dititipkan pada orang tuanya yang serumah dengan mereka. Dan tradisi generasi-satu rumah ini masih banyak dilakukan di kawasan pedesaan, sehingga angka kelahirannya lebih terjaga (di atas rata-rata angka kelahiran nasional)
Berbeda halnya dengan pasangan yang tinggal di kota, terutama yang tinggal di apartemen kecil dan jauh dari keluarga, ketika mereka memiliki anak, maka akan terasa lebih merepotkan, sehingga juga berakibat pada angka kelahiran di kota yang lebih kecil...Sebuah dilematis tersendiri bagi wanita Jepang yang tinggal di kota dan yang ingin bekerja tapi tetap bisa mengurus anak, karena artinya mereka harus memilih "punya anak atau kerja"...menurut data dalam tulisan tersbut disebutkan seperti ini :
"Osaka menempati peringkat kedua kota yang paling rendah tingkat kelahirannya setelah Tokyo. Pada 2005, angkanya hanya 1,15 kelahiran per satu perempuan. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata kelahiran nasional, 1,26".

So, mungkin jika boleh saya berpendapat, memang ada wanita Jepang yang mengundurkan diri saat hamil dan mereka kembali bekerja saat anaknya sudah mandiri..
Dan saat mendengar penjelasan dari Bu Anni, beliau memang tidak menyampaikan dengan detail mengenai cuti hamil di Jepang seperti apa...dan sayangnya tidak ada pembahasan apakah fenomena itu terjadi di perkotaan atau pedesaan Jepang, namun saya mengakui, dari pembahasan beliau saat itu, menorehkan "pemikiran" bahwa negara kita rasanya kok jauh sekali ya tertinggal, hehe..
Lalu pernyataan yang saya temukan dalam buku Bapak Munif Chatib..memang di sana juga tidak secara detail menyebutkan berapa lama cuti yang diberikan saat seorang wanita hamil, hanya ada pernyataan bahwa, biasanya mereka kembali bekerja setelah usia anak mereka 8 tahun...(berarti apa aku yang oon menafsirkan yaa....!!)

Nah, sambil menata ulang kembali...sekarang terlihat, bahwa ternyata "pernyataan" saya lah yang mengundang "kerancuan"...saat saya menuliskan Cuti hamil di Jepang selama 8 tahun,,,yang sebenarnya berasal dari kesimpulan pendek, yang saya pikir itu conclusion dari penelitan atau pemahaman pakar-pakar tadi....kemungkinan besar ada miss link di sini,,,yang tadinya saya pikir berarti cutinya itu 8 tahun, ternyata bukan, cutinya adalah seperti yang saya sampaikan di atas, 6 minggu sebelum melahirkan dan 8 minggu setelahnya, ditambah pengasuhan anak kurang lebih selama 1 tahun, adapun bagi mereka yang ingin mengurus anak lebih lama dipersilahkan, dan beberapa diantaranya ada yang mengundurkan diri dari bekerja dan baru kembali setelah anak-anaknya mandiri, and maybe this is because "budaya malunya" wanita Jepang...(mungkin ini yang dimaksud dalam tulisan bapak chatib selama 8 tahun itu, setelah anak-anak mandiri atau lewat fase golden age, makanya ditulis 8 tahun kali yaa..)

Jya, dari semua miss concept ini, saya menyimpulkan, menuliskan sumber yang benar meskipun itu hanya status "galau" di FB, hehehe...sangat penting terutama untuk menghargai pemikiran mereka yang intelek dan mendasarkan pemahaman mereka melalui pendekatan yang ilmiah...yaa kalau saya pribadi sie ngga apa-apa di kritisi, sambil belajar, hehehe...saya paham maksud dosen saya, mungkin beliau takut nanti ada orang lain yang baca pernyataan saya dan menganggap hal itu benar padahal tidak seperti itu....heee...baiklah...maafkan y buu...mungkin saya memang terlalu dini mengambil kesimpulan...(*tapi status di FB tadi sudah saya hidden, jadi hanya saya dan dosen saya saja yang bisa membacanya, hehehe)

Yang kedua, ternyata mencantumkan kronologis waktu penulisan (data informasi) serta sumber yang akurat dalam penulisan di sebuah buku, apalagi buku yang menurut saya...(bakalan dibaca  banyak orang...), sangat penting untuk diperhatikan, agar nantinya tidak membuat miss concept pada beberapa pemikiran atau kesimpulan yang tidak diserap dan dicerna dengan baik, apalagi bagi mereka yang awam pada pengetahuan yang dimaksud penulis seperti saya, hehehe...

Oke, I hope, tidak terjadi lagi messy thing di kepala saya....mudah-mudahhan lebih jelas ya sekarang...dan mohon maaf kalau saya sudah melakukan kesalahan dalam menulis pernyataan "cuti 8 tahun itu yaa"....


Wassalam, terima kasih^^



Comments

nah itu niatnya aku mulai mencari pekerjaan kalau anak2sudah besar tapi maunyabekerja dari rumah.suamiku gak mengijinkankerja dikantor gitu
Ghiee said…
waah ternyata ada yang baca juga tulisannya..hehehe....jadi maluu...hee...iya mba lidya, hal ini memang banyak diperbincangkan skr, tntang dilema ibu yg ingin bekerja...umm tpi kyknya meskipun kerja dri rumah jg gpp ya bu..asalkan positif, anak jg msih terkontrol, bnyk jg khan ibu-ibu yg sukses kerja dri rumahnya...seperti para emak-emak blogger yg kreatif...hehehe...semangaathh ^^