Skip to main content

Rumah Tangga Jarak Jauh

WOBAMA
foto koleksi pribadi

Ini tentang saling menjaga dan saling menyelami satu gelombang cinta yang sama...dimanapun raga berada...jiwa tetaplah satu...
Sampai detik ini saya belum menemukan seseorang yang benar-benar bijak dalam memandang pasangan suami istri yang berhubungan jarak jauh (LDR). Pada umumnya hanya menjudge salah satu saja, kalau tidak suaminya yg dianggap “tidak bisa memimpin”, istrinya yang dicap “tidak patuh/tidak mau ikut suami”. Tanpa mereka tahu latar belakangnya seperti apa. Belum lagi ketidakpekaan di tempat bekerja yang membuat pasangan LDR dianggap tidak memiliki “keluarga” sehingga biasanya mereka diberikan beban pekerjaan yang lebih banyak. Padahal dengan keterbatasan waktu dan jarak yang mereka miliki, mereka juga harus bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarganya. Saya hanya teringat dengan sebuah nasehat “good management is start from home”, dan bagi saya ini berlaku untuk semua pasangan, baik yang LDR maupun tidak. Terkadang kita harus lebih peka terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kita, dan saya rasa selama manusia itu “mobile”, kita akan selalu menemukan pasangan suami istri yang melakukan LDR. Just respect them like you respect your family…
Mereka yg LDR..sebelum memutuskan untuk melakukannya pasti sudah dengan berbagai macam pertimbangan. Mereka pun sudah tau segala macam resikonya dari yang kecil sampai ke yang besar. Memang resiko serta tantangan yang dihadapi oleh pasangan LDR mungkin lebih banyak. Tapi mereka melakukan itu juga sudah dengan pertimbangan yang masak (baik secara mental maupun fisik), serta konsekuensi yang melekat padanya. Ada skala prioritas yang mungkin harus dijalani lebih dulu. Yang pasti menurut saya, baik sedang menjalani LDR ataupun tidak, nilai-nilai keharmonisan, sakinah, mawadah dan warrahmah itu tetap dijalankan, tidak semerta-merta hilang hanya karena jarak maupun perbedaan. Menjalin komunikasi yang betul-betul “intens”, dan tetap dalam satu frekuensi dengan pasangan menjadi porsi yang lebih besar bagi mereka yg LDR. Semua itu dilakukan untuk menjalani perannya masing-masing, baik sebagai istri maupun suami, saling bertanggung jawab meskipun jarak memisahkan. Kebersamaan dalam “satu atap” yang tetap dijalankan, kapanpun, dimanapun, meskipun raga tak bertemu setiap saat. Dan perlu dipahami bahwa meski dengan pertimbangan yang sudah masak sekalipun, dalam proses menjalani LDR itu memang tidak mudah, bahkan terkadang kesabaran saja tidak cukup. Banyak tantangan yang harus dihadapi bukan dari dalam diri pasangan saja, tapi juga tantangan dari luar, baik itu pekerjaan, lingkungan maupun keluarga. Terutama menghadapi rindu yang sering kali membabi buta. Ini adalah sekolah mental, yang proses belajarnya terus menerus dilakukan hingga ajal memisahkan….
Siapapun di sana yang sedang menjalani proses ini dalam tahap perjalanan rumah tangganya, tetaplah fokus pada apa yang menjadi prioritas rumah tangga kalian. Tetap jaga “ikatan” dan “komitmen”nya. Sayangi dan hargai pasangan dimanapun kalian berada…May Allah bless you everywhere, dan semoga kebahagiaan selalu meliputi kehidupan kalian…
Tetap semangaats….

Ghie Fitria
Bandung, 17 Oktober 2015

Comments